Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah Jimin cepat, tapi tidak tergesa-gesa. Tali tasnya melorot di bahu kanan, dan kemeja putihnya kusut sebab panas yang tidak bersahabat.
Hari sekolah memang selesai, tetapi tidak dengan harinya—belum benar-benar berakhir. Ia masih punya les tambahan, tempat dimana pelajaran lebih lihai membantainya daripada guru-gurunya di sekolah.
Sambil berjalan menyusuri trotoar. Jimin meneguk sisa air mineral di botol plastik yang ia bawa. Matanya sudah lelah, tasnya terasa berat karena membawa dua buku tambahan di luar jadwal kelas—yang sebenarnya bisa ia titip di loker tempat les, tapi ia lupa—lagi dan lagi.
"Augh, kenapa panas sekali hari ini." Gerutu Jimin, sambil menarik-narik bagian depan kemejanya. Menciptakan angin buatan untuk tubuhnya yang kepanasan.
Langkahnya melambat, ia sempat berhenti di dekat tiang lampu yang sama sekali tidak memberi teduh. Bayangan pohon sekitar terlalu tipis dan tiupan angin tidak kunjung datang. Aspal jalanan terasa menguap sampai ke pori-porinya.
'Ini aku yang lebay, atau memang dunia sedang demam parah.' sebab rasanya memang matahari jahat sekali hari ini. Padahal sudah mau petang, tapi panasnya menempel seperti lem super.
Karena penasaran, refleks Jimin mendongak—maksud hati ingin lihat posisi matahari. Sekedar memastikan, apakah benda langit itu ada tepat di atas kepala, sedikit turun, atau memang cuma Jimin saja yang merasa badannya sedang manja—tiba-tiba gampang kepanasan.
Tapi justru bukan matahari yang berhasil menarik atensinya, melainkan dua presensi di atas jembatan penyebrangan.
Otomatis Jimin menyipitkan mata. Selain karena agak silau, ia juga merasa familiar—dengan dua orang disana.
Keduanya berdiri disisi jembatan, dekat pagar. Mereka bergerak pelan ke kiri dan ke kanan—lebih sibuk daripada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Dahi Jimin sempat mengerut, selain bingung dengan apa yang mereka lakukan. Ia juga masih menebak siapa kiranya mereka. Sampai akhirnya cahaya sore mulai agak miring perlahan, barulah siluet mereka terlihat agak jelas.
"Dain?" Masih setengah yakin, setengah menduga-duga. Sampai Jimin mengangkat bahu tanpa sadar, saking berusaha untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas.
Dan ketika Jimin masih celingak-celinguk menyipitkan mata. Dain menoleh kearahnya—seolah dapat panggilan lewat telepati. Rambut sebahu gadis itu teterpa angin tipis, membuatnya berkibar pelan.
Dan tatapan mereka bertemu.
"Jimin-ah!" Suara Dain meluncur lantang, diikuti tangannya yang melambai semangat.
Tentu saja Jimin kaget. Ia buru-buru menoleh ke kiri dan ke kanan, berharap tidak ada yang memperhatikan—bahwa ada seseorang yang memanggil namanya dengan begitu antusias dari atas jembatan penyebrangan.