Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara detik jarum jam tidak menganggu Jimin yang menimang satu tablet obat diatas telapak tangannya. Bertemankan hanya satu cahaya dari lampu belajar, Jimin duduk ditengah gelap kamarnya.
Ada satu rangkap tebal materi dibawah tangannya. Katanya berisi acuan soal-soal yang akan keluar saat ujian akhir nanti.
Waktunya tidak lama lagi, terlebih untuk Jimin yang lamban dalam belajar dan harus secepatnya mengejar banyak ketertinggalan.
Jarum jam bergeser lagi, menuju 01:45 dini hari. Jimin menatap materi yang sama sekali belum ia buka, rangkap itu terlihat seperti gunung tinggi yang tidak akan sanggup ia daki. Lalu pandangannya kembali pada obat yang ada dalam genggamannya. Tidak ada merek yang tertulis, hanya ada garis pemisah ditengah.
Semua tampak seperti menuntut, mendesak, menekan—sedang Jimin sudah kelelahan sebelum memulai.
"Tidur hanya untuk orang yang sudah pandai, Jim. Orang bodoh tidak boleh santai-santai."
"Taehyung tidak pernah begini. Kau benar-benar keterlaluan, Jim."
"Tidak ada orang pandai hasil malas-malasan. Kalau kau lahir dengan takdir jadi jenius, mungkin malas tidak akan mempengaruhi mu. Tapi kau tidak begitu, Jim. Kau harus menyadari kebodohanmu."
Jemarinya meremat kuat tablet dalam genggamannya. Ia lelah menjadi bodoh, tetapi kebodohan tidak pernah lelah mengejarnya.
"Kau tahu, kepandaian itu diturunkan dari seorang Ibu. Taehyung mewarisi itu dari Ibunya yang pandai. Tapi Ibumu?"
Dan selalu berakhir dengan penghinaan, suara dikepalanya benar-benar sialan.
Tablet dalam genggamannya kini lembab sebab keringat. Ia masih belum menelannya, dan tidak tahu sedang menunggu apa. Karena selama detik demi detik berjalan, ia hanya bergelut dalam diam dengan isi kepalanya yang kacau.
"Sebentar lagi pagi buta, Jim. Kau menunggu apa?"
Dengan cepat menoleh kearah jendela, dimana presensi itu tiba-tiba saja ada— bersandar pada kusen.
Suaranya terdengar seperti desahan sekaligus dengungan yang berbisik tepat didepan telinga Jimin.
"Butuh bantuan?"
Bukan cuma berdiri—kehadiranya mendekat, merayap dalam diam bahkan ketika Jimin memilih menutup matanya dengan degup jantung yang menggila, pergerakannya tetap terasa.