Bingkai karmanya

61 8 0
                                        

2202 Kata

°•°•°

Langit mulai berganti warna, dari terang ke gelap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit mulai berganti warna, dari terang ke gelap. Bau dari antiseptik, pelarut alkohol, sampai hawa dingin khas rumah sakit, menyeruak, mengisi seluruh ruang sepanjang koridor—menusuk indra penciuman dan permukaan kulit.

Langkah Taehyung melambat, saat akhirnya ia sampai didepan ruang rawat Ayah.

Tangannya sempat menggantung di udara, saat hendak menyentuh gagang pintu. Ragu, antara ingin membuka pintu dan masuk, atau pergi saja menghindari suasana yang sangat ia benci. Tetapi matanya menangkap sosok Ibu yang duduk diatas sofa, lewat jendela kaca kecil persegi panjang dekat handle pintu.

Tampak begitu asing, dengan pandangan kosong yang dingin.

Mematung, kaku. Tangan bertumpu di pangkuan, bahunya turun—terbebani tekanan yang tidak tampak. Dengan raut yang hampir tidak Taehyung kenali, tidak ada keteduhan disana—seperti biasanya.

Dan entah kenapa, rasa bersalah langsung merambat dalam hati Taehyung. Tidak tahu pasti untuk kesalahan yang mana, namun jelas sangat menyesakkan.

Kemudian kembali menatap, gagang pintu yang sempat terabaikan. Kali ini, Taehyung tekan perlahan. Mendorong pintu tersebut, hingga terbuka dalam bunyi pelan. Dan aroma desinfektan langsung menyergap begitu langkahnya memasuki ruangan.

Sedang Ibu, tidak langsung menoleh—tidak menunjukan reaksi apapun. Seperti tidak menyadari kedatangan Taehyung, atau memang tengah larut dalam lamunan akut.

Sejenak Taehyung memperhatikan, hanya sebentar. Sebelum akhirnya ia memilih untuk mendekati Ayah. Melihat bagaimana pucatnya wajah Ayah, bertemankan suara berulang dari mesin di samping ranjang. Menjadikan sunyi dalam ruangan semakin menekan.

Lalu suara Ibu terdengar, pelan. Memecah fokus Taehyung, "Kau sudah makan, Taehyung-ah?"

Lantas Taehyung menoleh, mendapati Ibu yang menaruh atensi penuh padanya, "Sudah, Bu."

Mendengar itu, Ibu mengangguk pelan, meski tidak ada kelegaan yang tampak di wajahnya. Respon tadi hanya sekedar gerakan kecil yang lebih terasa seperti bentuk formalitas daripada perhatian sungguhan—atau hanya Taehyung saja yang mulai pesimis hatinya terhadap Ibu.

"Ibu juga sudah makan?" Tanya Taehyung sebagai timbal balik.

Tetapi Ibu tidak langsung menjawab. Sekilas, matanya bergerak kearah meja kecil di samping sofa—tempat seteko air dan beberapa kemasan makanan instan masih berdiri kokoh—tampak belum tersentuh. 

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang