Panggilannya

118 22 2
                                        

Tembus 912 Kata

°•°•°

Taehyung tidak pernah bisa terima, Dokter Mi-Seon pun setengah hati pada keputusan yang akhirnya keluar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Taehyung tidak pernah bisa terima, Dokter Mi-Seon pun setengah hati pada keputusan yang akhirnya keluar. Tapi Jimin, menentukan pilihannya untuk tetap pergi. Semua akan diminimalisir saat jarak akhirnya membuat ruang cukup besar untuk Jimin bernapas lebih leluasa. Ayah tidak akan terus menekannya, ia juga tidak akan
terlalu sering berhadapan dengan Taehyung. Jimin berpikir, ia bisa lebih mudah menjaga suasana hatinya.

"Mumpung belum jauh Jim, bibi tanya sekali lagi. Kau serius dengan keputusanmu? Taehyung tadi itu sangat sed—"

"Dua rius, Bi. Aku sudah tidak bisa lagi." Jimin menolehkan pandangannya pada Dokter Mi-Seon yang memusatkan pandangan pada jalanan didepannya. Suasana diluar yang hujan membuat kewaspadaan dibalik kemudi harus tetap terjaga, "Apa Bibi juga tidak mau membantuku? Tenang saja, Bi. Aku tidak akan selamanya menumpang di rumah Bibi. Aku akan minta Ayah mencari tempat tinggal untukku nanti."

"Bukan begitu, Jimin. Kalau kau ingin tahu, bahkan sebelum menikah Bibi sudah menganggapmu seperti anak Bibi sendiri. Tapi ini keputusan yang besar, Bibi hanya takut ini akan melukai dirimu sendiri." Pandangan Dokter Mi-Seon masih fokus pada jalanan, "Kita bisa ikuti usul Taehyung. Konseling terjadwal, jadi kau tidak perlu sampai keluar rumah begini."

"Aku memang ingin keluar dari sana." Karena ada kesempatan, Jimin tidak akan melewatkannya.

Meski pada awalnya sangat menyakitkan sebab kalimat pengusiran yang tersirat dari mulut Ayahnya. Tapi Jimin pikir, jauh lebih baik seperti ini. Ayah menunjukan kebenciannya dan pada akhirnya sampai pada tahap mendorong Jimin keluar dari hidupnya. Jimin tidak akan menahan diri lagi. Karena mungkin saja bukan hanya dirinya yang terluka, Ayah juga.

Jimin sakit karena diabaikan, dan Ayah tersiksa karena melihat Jimin didepan matanya. Untuk itu Jimin mengalah.

"Bibi harap kau mengambil keputusan yang benar." Memang, luka Jimin adalah keluarganya. Tapi jauh dari mereka juga, pasti membuat Jimin terluka.

Seperti perumpamaan, bersama tersiksa, tidak bersama akan lebih tersiksa. Bagaimana pun Jimin masih punya Ayah kandung. Dan dari penglihatan Dokter Mi-Seon, andai Jimin dapat perlakukan yang seimbang dari Ayahnya, pasti keluhan Jimin soal sosok Ibunya yang pergi secara mengerikan bisa sedikit berkurang.

Jadi secara simple, Jimin sangat ingin Ayahnya. Hanya saja, sosok itu sangat tidak peka. Dan malah memberi penekanan super kuat, yang membuat Jimin membentuk kesimpulan yang seharusnya tidak pernah ada.

"Kalau nanti ingin pulang, atau bertemu dengan keluargamu. Jangan sungkan, bilang saja pada Bibi atau Paman nanti. Kami akan mengantarmu."

"Terimakasih, Bi. Tapi sepertinya tidak." Jimin tidak merasa akan melakukan hal sebodoh itu.

"Kau mau makan tidak? Kalau mau , nanti kita berhenti dulu. Bibi ada restoran langganan. Makanan disana enak-enak." Jarangkmya tidak begitu jauh, mungkin sekitar 300 meter lagi.

"Bibi, Paman dan Hyun-Jun tidak akan marah'kan?" Tiba-tiba saja pertanyaan ini terlintas. Jimin baru kepikiran sekarang.

"Paman? Tidak, dia tidak akan marah.  Apalagi Hyun-Jun, dia pasti senang. Anak itu sangat extrovert, jadi kalau nanti banyak tanya dan tidak bisa diam. Bilang saja pada Bibi, okay. Kau tidak harus meladeninya, cukup buat dirimu nyaman saja. Jangan pikirkan yang lain." Karena Sung-Joon, suami dari Dokter Mi-Seon sudah mengenal Jimin meski hanya dari cerita-cerita singkat yang sering ia ceritakan. Pria itu sebelas dua belas sifatnya dengan Dokter Mi-Seon, kecocokan yang membuat mereka dipersatukan dalam bahtera rumah tangga.

"Jadi mau makan dulu atau tidak?"

"Terserah, kalau Bibi lapar mampir saja."

"Tapi kau juga harus ikut makan." Ucapan Dokter Mi-Seon membuat Jimin ingin kembali bersuara, tapi disela duluan, "Jangan bilang kau tidak lapar. Alasanmu sekarang sudah basi, tidak mempan buat Bibi."

"Dengar Bibi, Jim. Sekarang kau hidup denganku, kau harus makan tepat waktu, tidur tepat waktu, jam belajar dan istirahat harus seimbang, tidak ada rahasia-rahasia, apapun yang kau rasakan jangan dipendam, apapun yang menganggu pikiranmu katakan pada Bibi. Kau harus membiarkan dirimu, jadi dirimu sendiri." Satu tangan Bibi Mi-Seon terulur, "Deal?"

"Sekalian saja pakai perjanjian hitam diatas putih." mencebik meledek, buat Jimin kata 'Deal' itu berlebihan.

"Oh, kau menantang Bibi ya. Kenapa tidak, hitam diatas putih jauh lebih paten. Kau harus tanda tangan diatas materai juga." Dokter Mi-Seon menepikan mobilnya.

Dan Jimin pikir ini serius, "Bibi, jangan bercanda. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya."

"Sungguh-sungguh juga tidak apa-apa." Melepas seatbelt-nya, berniat keluar mobil.

Saat itu juga Jimin panik. Menahan pergerakan Dokter Mi-Seon. Mengira orang itu akan membuat kertas perjanjian sungguhan, "Bibi mau kemana?"

"Mau pesan makanan. Lihat itu." Menunjuk keluar dengan sorot matanya, kearah kedai yang cukup ramai, "Jimin mau ikut juga? Tapi disana sepertinya terlalu ramai. Bibi takut kau tidak nyaman, jadi lebih baik tunggu dimobil saja."

Menghela napas lega, ternyata dugaannya tidak benar, "Jangan lama-lama tapi."

"Iya, Jimin-ie. Tidak akan lama. Sudah, tunggu disini. Kalau ada apa-apa, telepon Bibi." Untuk pertanyaan itu, Jimin mengangguk. Melepas pegangannya pada lengan Dokter Mi-Seon. Membiarkan wanita itu keluar, menerobos hujan dengan payung besarnya.

Ditengah hujan yang mengguyur cukup deras diluar. Jimin menekan tombol bagian bawah kursinya, membiarkan bagian sandaran sedikit lebih miring lagi. Memposisikan duduknya senyaman mungkin.

Didalam hening yang hanya diisi suara dari indikasi lampu sen dan wipper mobil yang bergerak konstan, perhatian Jimin tertuju pada hiasan yang menggantung di langit-langit mobil Dokter Mi-Seon. Bentuknya dreamchacter warna vanilla, satu-satunya printilan hiasan yang terpajang di dalam mobil.

Asik melamun dengan dreamchacter mini sebagai titik pusat atensinya. Dering ponsel membuat fokusnya buyar. Jimin merogoh saku celananya, sekilas melihat kearah kedai. Ia pikir Dokter Mi-Seon menelponnya dari dalam sana, ternyata tidak. Panggilan itu datang dari orang lain.

Dan Jimin mengangkatnya, "Hallo Jimin-ah." Suara dari Ibu tirinya mengudara, memasuki pendengarannya.

1 chapter lagi ya, untuk hari ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

1 chapter lagi ya, untuk hari ini.

Written by Minminki.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang