Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Minat akan hilang saat seseorang mulai tidak peduli pada dirinya sendiri. Tetapi Jimin tidak melihat bola basket itu berhenti memantul dari tangan Taehyung bahkan saat matahari sedang terik-teriknya dipertandingan basket siang tadi.
Sebuah laga antar kelas, yang mengikutsertakan Taehyung juga didalamnya menjadi sangat spektakuler sebab riuhnya para penggemar dari saudara tirinya—pendukung fanatik Taehyung. Tepuk tangan yang luar biasa ramai, sorak-sorai yang tidak kalah meriah.
Jimin hanya menonton untuk beberapa saat. Hampir seluruh murid memenuhi lapangan outdoor, bersorak menyemangati tim kebanggaan mereka. Tetapi bagi Jimin, riuh itu terasa terlalu bising—terlalu padat. Jadi ia memilih menjauh, melangkah keluar dari keramaian—mencari kesunyian.
Berakhirlah Jimin duduk disana—tangga lapangan terbuka lainnya, tepat dibawah pohon sakura yang tidak sedang berbunga, sendirian.
Hening, seolah hiruk-pikuk di kejauhan hanyalah gema yang tidak menyentuhnya.
Inilah cara hidup baru—itu kesan yang Jimin dapat dari raut Taehyung yang bersemangat. Ia tampak seperti— jika dunia tidak memihakku, maka aku akan memihak diriku sendiri. Ya, Taehyung tampak berdiri diatas kakinya sendiri dalam situasi paling nyaman.
Basket adalah favoritnya, kegemaran yang selalu membuat sorot matanya lebih hidup, hal yang paling Taehyung sukai sejak dulu. Dan kini, ia memilikinya sepenuhnya, bukan sekedar berangan-angan, tetapi Taehyung mendapatkannya sebagai kenikmatan hidup.
Sedang Jimin, masih tersesat, dengan harapan palsu bahwa suatu saat ia akan ditemukan.
Tidak ada arah yang dituju, terganggu dengan banyaknya beban pernyataan yang berseliweran dalam benak. Asumsi- asumsi membuncah—berjejal di ruang pikir yang sempit, lelah memilah mana kiranya kebenaran dan kebohongan.
Les Demoiselles d'Avignon, bahkan Jimin kesulitan untuk melafalkannya.
Itu adalah judul lukisan didalam brosur yang bundanya pernah tunjukkan, masih karya dari pelukis yang sama—Pablo Picasso.
Hanya karena penasaran, Jimin rela membongkar kotak berisi barang peninggalan Bunda yang sudah ia beri gelar pandora box demi rasa ingin tahunya.
Itu lukisan yang ambigu.
Bagi Jimin yang bukanlah anak kecil lagi, visual lukisan tersebut terasa ambigu—membingungkan.
Secara kasarnya terlihat...erotis.
Tetapi ia tidak ingin buru-buru menghakimi, sebab sekali lagi, Bunda pernah mengatakan 'Seni bukan hanya sesuatu yang terlihat.'