Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara langkah kaki terdengar, itu para perawat yang menyisir tiap ruangan—dengan tugasnya masing-masing. Sedang Dokter Mi-Seon, sudah berjam-jam lamanya duduk bersandar di pojok ruang resepsionis. Kedua tangan terlipat diatas clip board kosong yang tidak lagi penting sore ini.
Tidak lepas pandangan dari garis lurus menuju dinding tidak berhias. Meski begitu, sorot matanya tampak tidak benar-benar ada disana, hanya raga yang ditinggalkan angan melanglang entah kemana, bersama satu nama—Jimin.
Berputar-putar anak itu dalam pikiran, seperti gema yang tidak kenal usai.
Jimin berdiri seperti siluet masa lalu dimata Dokter Mi-Seon. Remaja yang tumbuh bersama luka yang belum sempat terselamatkan. Kepedihan yang justru mengendap, beku, kemudian pecah lebih keras—diluar dugaan.
Begitulah yang ia dapati saat berniat memeriksa keadaan Jimin beberapa jam yang lalu.
Terlibat dialog satu arah, perhatian terbagi pada sesuatu yang tidak nyata. Pandangan Jimin tidak terputus, atau tampak kosong seperti hilang jiwanya. Justru anak itu terlihat benar-benar terlibat dalam sebuah percakapan yang tenang, intens, bahkan kadang tersenyum kecil, atau mengernyit.
Sedikit terkejut, tapi Dokter tidak berpaling barang sedetik pun saat itu. Ia tetap memperhatikan tindak-tanduk Jimin. Matanya merekam tiap tingkah, raut wajah, secara detail, bersama lajur napasnya yang terasa berat menyendat.
Hingga akhirnya pandangan Jimin bergeser, bertemu pandang dengannya—saling menatap. Momen dimana waktu terasa berhenti sejenak.
Meski sempat ada ketegangan kecil yang terlihat di bahu Jimin, namun setelahnya anak itu tidak menunjukan kegugupan. Hanya ada sorot mata yang dalam—tidak terbaca, terlalu lombong samar makna.
Hanya bertahan sepersekian detik sebelum akhirnya anak itu kembali menoleh kesamping—memutus kontak mata yang sempat terjalin, seakan menyampaikan pesan bahwa sesi pengamatan selesai, dan dunia miliknya tidak bisa dibagi.
Dan bicara lagi—melanjutkan pembicaraan yang mungkin sempat tertunda barusan. Percakapan dengan sesuatu yang—entah seperti apa rupa yang mata remaja itu proyeksikan.
Yang pasti, Dokter Mi-Seon lihat gerak bibirnya tampak pelan—tidak tergesa, tidak menggambarkan konfrontasi tegang—namun hanyut dalam kepadatan yang keras. Sesekali tangannya juga ikut bergerak, mengisyaratkan emosi. Secara nyata menunjukan ada hubungan disana, sesuatu yang tidak bisa diabaikan—sulit diabaikan.
Berkedip cepat, perih mata Dokter Mi-Seon terkontaminasi udara terlalu lama. Termenung, melamun tegang, sampai ia baru sadar punggungnya terlalu lama tegak menjauhi sandaran kursi.
Tenang, semua akan bisa dilalui jika pikiran mampu menelaah dengan rukun dan runtun. Tanpa tergebu kepanikan atau was-was diujung ubun-ubun.
Sejenak rileks, tangan mengusap wajah. Napas tidak lagi tertahan, lancar jaya sampai akhirnya satu tanya menguar dalam kepala—masih pertanyaan yang sama tentang, "Ada apa dengan Jimin barusan?"