Spin off : Sebelum matahari datang.

67 9 0
                                        

1830 Kata

°•°•°

Kelopak mata itu, selalu terbuka mendahului fajar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kelopak mata itu, selalu terbuka mendahului fajar. Dibalik kedipan matanya yang lambat—menggelayut kantuk masih erat. Umur Taehyung baru enam tahun, tetapi sudah dihantui dengan daftar panjang aktivitas yang menunggu—dengan bermain sebagai pengecualian.

Setiap pagi, terasa berat seperti langkah kaki teredam dalam pasir taman bermain—terjebak dan sulit diangkat.

Samar-samar cahaya mentari menyusup lewat celah-celah tirai. Dan suara terdengar di ambang pintu—dingin, tegas—tanpa sela.

"Bangun, Taehyung. Cepat siap-siap dan turun ke bawah, Ayah yang akan mengantarmu hari ini." 

Taehyung menarik kembali selimutnya, setelah sekiranya Ayah sudah menjauh dari kamarnya. Berusaha menyembunyikan diri dari perkataan Ayah yang datang tanpa diundang—terdengar apatis, dan itu cukup melukainya—dirinya yang mulai mengerti arti kata lelah—tetapi tidak cukup hanya dengan tidur saja.

Realitas lebih cepat merobek mimpi, daripada menguatkan angan yang berkelana.

Tetapi, sebanyak apapun Taehyung menghindar. Ia tetap harus melakukan apa yang Ayah katakan, seperti yang selalu Ayah bilang, "Itu semua demi kebaikan."

Lantas, meskipun matanya terasa buram sedikit. Tetap ia paksakan bangun, menuruni tempat tidurnya, menjejakkan kaki di atas lantai dingin kamarnya, untuk pergi ke kamar mandi.

Di dalam ruang dingin, tempat membersihkan seluruh badan, Taehyung mendorong kursi kecil mendekati wastafel. Dengan kedua tangan, memutar pelan keran air—membasuh sisa kantuk yang masih menempel di kelopak matanya.

Suara air yang jatuh membentur permukaan dalam wastafel, terdengar seperti hujan ribuan jarum yang menghujam atap—dingin,  menusuk, dan memaksa terjaga.

Bahkan tangan kecilnya ikut gemetar saat menarik handuk yang terlampir di samping wastafel. Sedikit menepuk-nepuk wajah pucatnya. Lalu menatap cermin, memandang refleksi diri yang dipantulkan sebagai—seorang anak laki-laki, dengan rambut basah berantakan, dan mata yang tidak punya sinar.

Akan tetapi, sebuah cermin tetap tidak mampu memantulkan, kerinduan yang ingin ia sampaikan—hanya keterdiaman. Seperti Ibu yang lebih sering mengangguk pada kata-kata Ayah.

Tidak bertahan lama mematri diri, sebab kelamaan wajahnya mirip karakter zombie—kurang tidur, kurang main, dan kurang bersemangat. Jadi ia buru-buru mandi, meski harus melawan dinginnya air.

Setelah selesai, ia keluar guna memakai seragam sekolahnya. Mengancingkan satu per satu kancing yang terasa seperti menjegal jalur napasnya. Pokoknya harus rapi—tidak boleh miring, salah masuk kancing, apalagi kusut—nanti Ayah bisa marah.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang