Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kertas kosong di bawah tangan kanan Jimin sudah penuh dengan coretan acak tidak terdefinisi hasil dari jemarinya yang mengapit pena biru. Sedang tangan kirinya sesekali membuka lembaran buku saat lembar sebelumnya sudah rampung baca.
Bibi Mi-Seon bilang, belajar sambil mencoret-coret kertas secara acak atau terpola, bisa membantu menjaga fokus, dan pastinya mengurangi tekanan dari ambisi ingin sepintar Albert Einstein.
Seingat Jimin, sebutannya 'Doodling' begitu kata Bibi Mi-Seon. Aktivitas menuangkan coretan sederhana.
Cara ini terdengar sepele memang, tetapi bagi Jimin seperti angin segar yang berhembus saat ia membuka jendela kecil dari pikirannya yang terasa sempit.
Kali ini, Jimin tidak akan bertarung dengan angka-angka dan mulutnya tidak akan menggunakan hitungan. Sebab lawannya sekarang bukanlah rumus matematika, melainkan buku sejarah yang tebal.
Ya, buku sejarah.
Yang isinya padat kata, paragraf panjang, dan yang pastinya bermuatan cukup padu.
Bagi otak Jimin yang rasanya sering macet mirip mesin kurang oli. Butuh tenaga ekstra untuk memahami tiap kalimat kompleks yang ada dalam buku dihadapannya.
Lembar per lembar terasa seperti bentangan medan perang. Dimana setiap paragraf menantang kesabaran, kekuatan fokus dan keteguhan untuk tidak memalingkan wajah sebab rasa muak yang menyerang.
Terlebih, buku sejarah bukan sekedar catatan masa lalu biasa, hal ini sangat bersahabat dekat dengan keahlian menghafal. Sedang Jimin tidak memilikinya, ia cenderung pelupa. Bagian penting seperti ini tidak pernah tersangkut dalam ingatannya—bagai debu tersapu angin.
Jadi bagi Jimin, belajar isi buku sejarah itu bukan hanya sekedar memahami. Tetapi juga berjuang menghadapi daya ingat otaknya yang seperti pasir—terus bergeser dan sulit untuk dipertahankan dalam rengkuhan.
"Abad sembilan belas, ke abad dua puluh." Adalah awal mula migrasi penduduk dimulai, "terutama ke Tiongkok dan Rusia."
Itulah salah satu bagian yang coba Jimin tancapkan dalam benaknya yang mudah lupa. Sebab mungkin saja akan keluar di soal ujian nanti, dengan rupa pertanyaan yang diputar-putar. Menjebak sampai mengecohkan pilihan jawaban.
Tetapi jika Jimin tahu titik inti pertanyaannya, mungkin ia bisa dengan yakin memastikan jawaban yang benar.
Masalahnya hanya satu, Jimin harus mampu mengingatnya—tanggal, tahun, dan runtutan kejadian lampau yang tertera dalam halaman-halaman buku sejarah yang ia baca.
"Dibuku ini masa lalu bisa sangat membanggakan."...tapi buatku, masa lalu itu mengerikan."
Sialnya, yang mengerikan itu jauh lebih mudah Jimin ingat kebanding masa lalu bermanfaat dalam buku sejarah.