Peperangan hatinya

95 10 1
                                        

3225 Kata

°•°•°

Sebagian orang berdoa, agar mampu menghadapi dan mengatasi apapun bentuk masalah yang datang secara tidak terduga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebagian orang berdoa, agar mampu menghadapi dan mengatasi apapun bentuk masalah yang datang secara tidak terduga. Tetapi jika Jimin diminta memilih, ia akan jadi salah satu dari sebagain orang lainnya yang berdoa agar terhindar atau jika bisa, masalah tidak terduga itu tidak perlu datang.

Contohnya saja sekarang. Ia harus berjalan beriringan dengan orang yang belakang ini ia anggap masalah, sebab selalu mengikutinya selama Jimin ada di lingkungan sekolah—si gadis cemilan.

Tapi kali ini, orang itu juga muncul di tempat les Jimin, dan membuat keributan.

"Ku hitung sampai tiga, kalau kau tidak menjauhkan tanganmu dari rambutku. Ku colok kedua matamu itu!" Menggelegar macam petir tengah hari bolong. Suara bentakan yang melengking itu datangnya dari seorang gadis, berambut sepundak.

Teriakan kencang itu terdengar jelas sampai ke ruang les. Semua orang yang baru saja selesai dengan kegiatan belajar mengajar, berhamburan keluar karena penasaran. Terkecuali Jimin, ia keluar bukan karena mau tahu, tapi mau pulang.

Hanya saja, langkahnya tertahan sebab tidak menyangka kalau si gadis cemilan ada juga disana. Saling jambak-jambakan dengan gadis lain yang lebih pendek rambutnya.

"Kau yang harusnya menjauhkan tanganmu dari rambutku." Si gadis cemilan ikut membalas, tetapi tidak dengan berteriak seperti orang kesetanan. Gadis itu bicara dengan tenang, "Lagipula Minsoo, aku ini menyuruhmu belajar, bukannya berjudi. Kenapa jadi marah-marah begini."

"Hei, dengar ya Kak Dain kolot. Aku tidak perlu belajar. Aku ini sudah pintar." Luar biasa makian gadis rambut sepundak itu. Sambil melotot-melotot pula matanya—seakan ingin menelan siapapun yang menantangnya.

Si gadis cemilan terlihat menarik napas panjang, mungkin karena ikut emosi juga, "Bukan begitu Minsoo. Ibu Ayahmu itu sudah sangat baik mau menyekolahkan mu, memberi tempat les juga. Masa kau begini sikapnya."

Dan ucapan panjang itu, agaknya kembali menyulut emosi yang berambut pendek. Sebab orang itu menyentak kuat rambut lawan bicaranya,"Berhenti ceramah! Pergi ke tempat ibadah kalau kau mau ceramah!"

Sedang orang-orang yang jadi penonton mulai saling beradu pandang, mulai berbisik-bisik, mempergunjingkan pertengkaran yang tersaji dihadapan mereka. Meski sebagian juga ada yang diam saja—seperti Jimin contohnya.

Yang hanya berdiri, tidak jauh dari TKP. Dengan satu tangan memegang tali ransel, dan satunya lagi menggenggam ponsel yang belum sempat dimasukkan ke saku. Dan Jimin sendiri tidak sadar kenapa ia malah berdiri diam. Bukannya melangkah pulang.

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang