Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hidup adalah tempat yang jelek jika tidak memiliki teman.
Hyun-Jun mempresentasikan hal tersebut dengan sangat jelas. Bocah itu sangat menyayangi temannya, terlihat dari tindak tanduk diluar prediksi Jimin yang terbiasa melihat Hyun-Jun dengan ketidak seriusannya.
Hyun-Jun jadi tampak melewati umurnya dengan sikap yang kelihatan tidak anak-anakable.
Contohnya saja dengan merangkul kawannya yang tampak sedih, kemudian terus menatap wajahnya meskipun temannya itu menunduk. Pandangan anak itu seolah mengatakan pada temannya kalau: "Aku disini, disampingmu. Aku tidak akan pergi kemana pun."
Tidak ada letak yang menggambarkan kalau anak kecil itu hanya tahu tidur, bermain dan makan.
Harusnya ini momen yang menghangatkan hati, tetapi Jimin justru tidak mengerti. Sanubarinya tidak memiliki rasa sampai kesana dan malah memunculkan perasaan heran yang langsung kentara lewat ekspresi wajahnya.
Jimin jadi meragukan jiwa kanak-kanak Hyun-Jun yang mendadak hilang di matanya, Ini terlalu dewasa untuk diperankan anak tujuh tahun yang tugas sekolahnya masih dikerjakan Jimin cuma-cuma.
"Jadi Jun itu Adikmu ya?" Mengalun nada suara yang ringan, keingintahuan tulus ikut membaur didalamnya.
Jimin tahu, gadis cemilan itu yang bicara. Tetapi ia tidak berniat menanggapi pertanyaannya. Ia masih sibuk memperhatikan tindak tanduk Hyun-Jun yang menurutnya aneh—menurut jalan pikirannya sangat aneh.
"Jimin-ah." Sementara gadis itu kembali bersuara, seolah tidak terganggu dengan keterdiaman Jimin, "Jun itu sudah lama loh berteman dengan Sua, aku baru tahu kalau Jun punya Kakak dan itu dirimu. Padahal aku mengenalmu, dan Sua mengenal Jun, tapi kita baru tahu fakta ini sekarang."
Jimin tidak menjawab meski ia tidak lagi memperhatikan dua bocah di depannya. Bahunya turun bersama dengan desah lelah, sedih sekali melihat lembayung senja yang mulai hilang, sekarat sudah jiwanya yang mendamba kasur di kamarnya.
"Jun anak yang ceria ya, Sua juga jadi terbawa ceria sejak berteman dengan Adikmu."
Ya, Jimin setuju soal 'Ceria' meskipun pribadi itu sedikit meluntur dalam pandangan Jimin setelah tahu apa yang Hyun-Jun alami.
"Dia banyak bicara juga." Gadis itu tertawa kecil, ringan dan tulus, "Tidak seperti Kakaknya, cuek."
Jimin mengalihkan pandangannya pada ramainya jalan, seolah menganggap ucapan gadis itu hanya angin yang berlalu saja. Ia tidak tertarik untuk menjelaskan sikapnya, tidak tertarik membahas Hyun-Jun dengan sifatnya, lebih tidak ingin lagi ada dalam satu konversasi yang sama dengan presensi disampingnya.