Pengabaiannya

122 17 8
                                        

1173 Kata

°•°•°

Bagaimana bisa seseorang berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagaimana bisa seseorang berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat.

Dimata Jimin, hal yang terjadi sekarang, serupa cahaya mengalahkan suara kilat. Begitu asing saat netranya bersirobok tatap dengan Taehyung.

Apa karena orang itu marah? Sebab sudah berkali-kali diabaikan. Tapi agaknya itu bukan Taehyung style sekali. Orang itu biasanya pantang menyerah, tidak gentar meski dihempaskan Jimin berkali-kali.

Sedangkan kali ini, sangatlah berbeda. Taehyung tidak menyapanya, Taehyung tidak bicara dengannya, Taehyung cenderung menghindarinya.

Sejenak harusnya Jimin pikir ini sebuah kemajuan, tindakan Taehyung sekarang, adalah apa yang selama ini Jimin inginkan—menjaga jarak dan tidak terlalu memaksa untuk dekat.

Tetapi perubahan yang bergerak terlalu cepat, membuat Jimin merasa begitu janggal, seperti ada yang kurang, rumpang, ada ruang yang mendadak kosong tidak bertuan. Terbiasa diganggu oleh presensi Taehyung dan tingkah menyebalkannya, membuat Jimin merasa ada sesuatu yang menghilang, ketika Taehyung lebih banyak diam.

Kemudian Jimin coba sadarkan lagi jalan pikirnya. Ini hanya tentang waktu, untuk terbiasa tanpa gangguan Taehyung secuil pun. Ketenangan yang Jimin mimpikan akan segera datang. Tidak ada ocehan, tidak ada tingkah menyebalkan, tidak ada afeksi menjengkelkan, yang pasti hadirnya Taehyung akan memudar dari kesehariannya.

Semakin memudar hingga tidak lagi terasa eksistensinya.

Tetapi karena masih penasaran, Jimin kembali melirik Taehyung yang kursinya berada lumayan jauh darinya.

Sebetulnya aneh, sangat aneh. Banyak orang bilang, kalau seseorang berubah secara tiba-tiba, biasanya ajalnya sudah dekat. Sebulan sebelum mati, katanya akan terlihat pucat. Tapi Taehyung biasa saja, tidak terlihat seperti akan jadi mayat dalam waktu dekat. Orang itu malah sangat fokus memperhatikan guru fisika yang tengah melakukan eksperimen sederhana dihadapan semua murid.

'Tapi, kenapa juga aku harus peduli.' biarpun Taehyung benar-benar diambil umurnya. Tidak ada ruginya buat Jimin.

Ada atau tidak, tidak ada dampak apa-apa. Memang nyatanya Jimin tidak ingin dekat, walau direntang jarak antara alam dunia dan alam baka, tidak masalah. Bukan perkara yang harus membebaninya. Taehyung punya banyak orang yang akan menangisi kepergiannya tujuh hari tujuh malam. Apalagi Ayah dan Ibunya, yang pasti akan merasa sangat kehilangan.

Lantas Jimin mengalihkan pandangannya ke depan. Ikut memperhatikan apa yang gurunya sedang lakukan.

Fisika bagian praktikum itu memang tampak menarik, terlihat menyenangkan, meski pada akhirnya para murid akan diminta mengolah kejadian yang dipertontonkan kedalam rumus-rumus yang bagi Jimin rumit dan sulit dicerna daya pikirnya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang