Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jimin berhadapan langsung, secara empat mata dengan orang yang paling ia hindari di muka bumi—Ibunya Taehyung.
Setelah perginya Guru Nam persekian detik yang lalu. Belum ada pembicaraan yang terbangun diantara mereka. Jimin yang memalingkan wajah, enggan menaruh atensi sedikit pun. Sedang wanita yang menyandang status sebagai Ibu tirinya, hanya duduk diam—belum buka suara.
Keheningan masih setia menggantung, seperti kabut tipis yang menyelimuti sekitar. Setiap detik berlalu tanpa arah yang jelas. Bertemakan bau samar desinfektan dan detak jam dinding, yang cukup terdengar diantara kekosongan kata.
Hingga akhirnya suara itu pecah juga.
"Jimin-ah." Bernada ragu, seolah tengah menimbang kembali setiap suku kata yang akan dikeluarkan.
Sementara Jimin tidak menjawab, bergeming di tempatnya. Hanya matanya yang sedikit menyipit refleks, menandakan bahwa ia mendengar, tetapi tidak berniat melibatkan diri di dalamnya.
"Taehyung benar-benar kacau, nak." Lanjut Ibu Taehyung, begitu pelan, "Tidak bisakah kau kembali untuknya? Ibu akan membujuk Ayah untuk itu."
Menarik napas pelan, tubuh Jimin sedikit menegang. Topik ini lagi dan lagi yang Ibu tirinya bawa ke hadapannya. Seolah tidak peduli kalau ia sudah muak setengah mati.
Ibu Taehyung menunduk, menggenggam jemarinya sendiri, "Kita bisa lakukan seperti ide Taehyung sebelumnya, rawat jalan. Jadi kau bisa tetap tinggal di rumah, dengan kami."
"Lalu mati di tangan kalian?" Jimin benar-benar merasa konyol. Seolah hidupnya hanya sekedar permainan yang bisa diisi ulang kalau kalah nanti.
Dalam sekali tatapan Ibu Taehyung terhadap Jimin. Ia tetap bicara meski getar mulai terdengar di suaranya, "Ibu tahu, kami ini benar-benar salah di matamu. Tapi kita juga masih keluarga, Jimin. Setidaknya, kita bisa memulai dari awal lagi selayaknya keluarga."
Diam. Sunyi. Bahkan detak jam dinding terasa terlalu keras.
Jimin masih tidak bicara. Tidak mengangguk, tidak menggeleng, tidak melihat kearah siapa pun. Tidak ada yang bisa ditafsir sebagai persetujuan atau penolakan, hampa dan datar. Nihil reaksi yang berarti.
"Jimin-ah?" Seakan meraba dalam gelap. Ibu Taehyung berharap ada sedikit saja tanggapan dari Jimin.