Tangkapan netranya

102 12 3
                                        

2381 Kata

°•°•°

Bau aneh menusuk hidung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bau aneh menusuk hidung. Bukan wangi parfum Bunda seperti biasanya. Melainkan bau yang lebih tajam—seperti bau besi, di lemari bawah wastafel.

Kaki Jimin bergerak, melangkah masuk tanpa disadari. Telapak kakinya menyentuh cairan yang menggenang—basah, hangat dan lengket.

"Paman, Bunda habis jatuh ya?" Dan Jimin berjongkok disana. Memandangi wajah pucat Bunda, yang matanya tertutup rapat, tergolek bersandar pada sisi tempat tidur.

Netranya menatap, tanpa ragu. Tapi jiwanya menjauh.

Kemudian suara guntur terdengar. Besar menggelegar. Petir menyambar keras di luar jendela. Membuat ruangan seketika disinari kilat putih yang menyilaukan. Membuat Jimin dapat melihat dengan jelas. Wajah Bundanya yang tampak seperti tidak dialiri darah.

"Bunda." Jimin mengarahkan tangannya—menyentuh pipi Bunda.




Saat itu juga, Jimin terbangun dengan sentakan tajam. Tubuhnya menegang, napasnya kacau—cepat dan pendek— setelah sempat tertahan. Seperti baru saja lolos dari sesuatu yang nyaris menenggelamkan.

Sekeliling kamarnya tidak begitu gelap, tetapi diluar hujan  tampak mengerikan.

"Jimin-ah?"

Sebuah suara lembut terdengar, menelusup diantara suara hujan dan deru napas yang belum stabil. Jimin menoleh cepat, nyaris refleks.

Seketika wajah Dokter Mi-Seon terpampang jelas di hadapannya. Membuatnya terkejut dua kali.

"B-Bibi." Agak terputus suara Jimin. Pandangannya sedikit buram, setengah tertinggal antara kenyataan dan sisa mimpi yang membekas dalam pikiran.

"Iya, ini Bibi." Tatapan Dokter Mi-Seon, memberikan sorot tenang—yang benar-benar tenang. Mengalir alami, bukan kepura-puraan.

Tetapi Jimin, malah memincingkan mata. Bukan karena sekitarnya kurang terang, tetapi karena ia tidak mempercayai pandangannya. "Bibi Mi-Seon?"

Lagipula, Jimin harus menutupi kepanikannya—sekali pun jantungnya berdebar seperti akan meledak. Ia harus tetap tenang, tetap tampak biasa. Supaya Dokter Mi-Seon tidak mulai berpikir yang bukan-bukan lagi.

Sedang Dokter Mi-Seon tidak langsung menjawab, ia diam—membiarkan keheningan menggantung sejenak. Netranya tidak bergeser, terkunci pada Jimin—Menatap, membaca, menilai, matanya bergerak memindai tatapan Jimin. Gerak tubuh anak itu, reaksi kecil, semuanya tidak luput dari pandangannya yang terlalu sering melihat luka tidak tampak.

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang