Keluarganya

149 22 4
                                        

1574 Kata

°•°•°

24/7 ponsel Jimin tidak sehari pun terlewat dapat pesan singkat dari Dokter Mi-Seon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

24/7 ponsel Jimin tidak sehari pun terlewat dapat pesan singkat dari Dokter Mi-Seon.

Sudah seperti kebutuhan makan, tiga kali sehari. Dengan waktu yang tidak tentu, entah siang, pagi buta atau tengah malam, tapi pasti ada. Mulai dari menanyakan kabar sampai hanya basa-basi saja.

Terkadang Jimin tanggapi, namun lebih banyak yang Jimin abaikan. Ada rasa tidak nyaman sejak pertemuan terakhir mereka, apalagi setelah terlibat pembicaraan yang dalam. Jimin merasa terancam, ia jadi mengkhawatirkan banyak hal terutama pandangan Dokter Mi-Seon.

Sebagai manusia, wajar kalau Jimin mendamba penanggapan baik dari orang diluar sana. Ia ingin disebut berkembang, bukan mengalami kemunduran. Meski pada kenyatannya Jimin sering dibuat kewalahan, pasrah dan kadang menyerah sebab lelah. Keinginan hati jadi pribadi yang dipandang sama dengan manusia lainnya tentu saja ada.

Jimin berpikir apa yang ia alami sekarang adalah hal yang harus ia tutupi dan simpan dalam-dalam. Aib yang bisa mengecewakan banyak orang. Sementara Jimin tidak bisa menjanjikan diri untuk keluar dari situasi yang membuatnya tenggelam.

Tapi setidaknya, orang lain tidak boleh tahu kalau ia sekarat dan ingin sekali pulang. Tidak banyak yang orang lain tahu saja, Jimin dipandang sebelah mata sampai tidak berkutik saat direndahkan. Apalagi sampai semua orang tahu kalau Jimin benar-benar payah luar dalam. Tidak ada yang bisa dibanggakan dan diharapkan.

Sekali lagi Jimin melihat ke layar ponselnya, dimana notifikasi pesan dari Dokter Mi-Seon terpampang. Berkali-kali pun berpikir, Jimin tetap pada keputusan mengabaikan. Meski rasanya tidak tahu diri juga. Jimin hanya merasa tidak pantas mendapat perhatian sebesar itu, sementara Dokter Mi-Seon punya Hyun-Jun yang lebih butuh dan lebih pantas dapat perhatian darinya.

Jadilah ia hanya memperhatikan langit-langit kamarnya. Menjauhkan ponsel yang sebelumnya sudah ia matikan.

Mungkin sudah kesekian ribu, Jimin melakukan kegiatan monotonnya semacam memandang plafon putih polos kamarnya. Tidak ada hal yang menarik dari permukaan tanpa corak itu, hanya saja Jimin betah berlama-lama menaruh atensi disana dan tenggelam dalam lamunannya.

Sampai wangi lembut mirip buah apel menyapa indra penciumannya. Mata Jimin melirik secara spontan, kearah datangnya aroma yang menenangkan.

Ada Ibu tirinya yang datang dengan cangkir ditangan. Menghampiri Jimin dengan begitu anggun, menguarkan aura keibuan yang kental.

Jimin tertawa dalam hatinya, pantas Ayah begitu tergila-gila pada Ibu Taehyung sampai sanggup memalingkan wajah dari Bunda, hingga membuatnya memilih alam baka daripada berenang-renang dalam duka bersama putranya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang