Kelas tambahannya

89 10 2
                                        

1195 Kata

°•°•°

Jika masalah dapat dipecahkan, maka khawatir tidak ada gunanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika masalah dapat dipecahkan, maka khawatir tidak ada gunanya. Sedang Jimin cemas, karena masalahnya tidak pernah tuntas.

Sebenarnya Jimin tahu kalau ia punya kelas tambahan di Minggu sore, saat dirinya menyetujui permintaan Dokter Mi-Seon. Hanya saja waktu itu, ia pikir acara sekolah tidak akan berlangsung sampai seharian full. Apalagi itu kegiatan anak-anak.

Susunan acara amal sekolah dimulai jam delapan pagi, lalu berakhir di jam dua siang. Nah, direntang waktu itu seharusnya Jimin pulang bukannya menuruti keinginan Hyun-Jun yang masih mau bermain bersama anak-anak panti yang lain.

Harusnya Jimin juga tidak terbawa suasana memadai yang jarang ia temui. Sampai kebablasan dan lupa kalau ada hal penting yang menanti.

Jadi berakhirlah ia disana—disebuah kedai roti, berhadapan langsung dengan Ayahnya yang tampak tidak senang hati.

Dengan tangan yang bersilang dan tatapan tajam, Ayah bersuara, "Darimana saja kau?"

Membuat kontan Jimin menundukkan kepalanya, mencoba menata kalimat maaf agar tidak terdengar seperti perkataan kadaluarsa. Sedang lidahnya kelu, udara disekitarnya terasa padat menekan, rasanya sulit menarik napas, seakan tiap helaan akan menimbulkan konflik baru yang tidak usai-usai.

"Sekarang kau bisu? Jawab Jimin." Memang nada suara Ayah datar, namun jelas mengandung beban kecewa yang besar.

"M-maaf, Yah." Sebanyak apapun keberanian yang Jimin kumpulkan, suara yang keluar tetap terdengar, serak, kecil, nyaris tertelan dengan bising sekitar. 

"Tambah bodoh rupanya." Ayah tidak keras dalam berucap, namun tetap mampu membuat Jimin meremat gelisah tangannya di bawah meja, "Apa kemampuan komunikasimu kembali terganggu? Pertanyaanku darimana saja dirimu. Tidak ada yang perlu permintaan maafmu."

Jimin menggigit bibir bawahnya, menunduk semakin dalam, tidak berani menatap wajah dari sosok yang ia sebut Ayah.

Lalu suara berat hembusan napas Ayah terdengar, juga decitan kursi hasil dari punggung Ayah yang bersandar, "Jawab."

Susah payah Jimin menarik napas guna mengisi paru-parunya yang terasa menyempit. Tidak ada celah untuk sembunyi apalagi berlari, setakut apapun Jimin atas respon dari jawaban yang akan ia berikan, tetap harus dilakukan.

"I-Ikut, Ikut acara amal, Yah." Suaranya terputus, kerongkongannya kering mendesak minta dibasahi, namun sekedar menelan ludah pun sulit, "D-Di panti a-asuhan."

Tanpa JedaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang