Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Itu waktu umur Hyun-Jun lima tahun."
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat Jimin tersentak kecil dan refleks menoleh ke belakang.
Di sana, ada Dokter Mi-Seon yang berdiri sambil mengulas senyum tenang yang begitu khas. Jarinya terulur menunjuk pada salah satu bingkai foto yang berjajar rapih diatas kabinet putih di depan Jimin, "Kalau yang ini,waktu umur Hyun-Jun dua Minggu."
Pandangan Jimin mengikuti kemana arah Dokter Mi-Seon menunjuk. Di dalam bingkai kayu berukuran sedang itu, ada potret Hyun-Jun yang tersenyum lebar dengan mata yang membentuk bukan sabit—terlihat polos dan hangat.
Lalu Dokter Mi-Seon menunjuk bingkai selanjutnya, "Yang ini, waktu Hyun-Jun baru lahir."
Potret di dalamnya menunjukan seorang bayi yang dibalut dengan selimut biru pastel, pipinya masih bengkak dan memerah seperti apel matang.
"Waktu itu, Hyun-Jun sempat masuk inkubator beberapa hari. Dia adalah anak yang kuat sekali." Afeksi yang lembut, ketulusan dari seorang Ibu, tercermin dari nada bicara Dokter Mi-Seon, "Lihat pipinya, merah seperti apel snow white."
"Kalau yang ini?" Jimin tertarik dengan foto yang lainnya. Jarinya menunjuk bingkai di ujung kabinet.
Potret yang mengambil angel belakang—berlatar langit senja yang membentang seperti kanvas keemasan. Disana, Hyun-Jun terlihat berdiri tenang dalam dekapan Ayahnya yang duduk diatas putihnya pasir pantai. Siluet mereka dibingkai cahaya hangat dari mentari yang terbenam—tampak sangat bahagia.
Makin merekah saja senyum Dokter Mi-Seon, pandangannya melunak bersamaan dengan momen-momen hangat yang terputar dalam benak, "Itu waktu jalan-jalan pertamanya Hyun-Jun ke pantai."
"Umurnya baru tiga tahun saat itu, tapi dia sangat antusias. Berlari-lari ditepi pantai, bermain dengan ombak yang datang menyentuh kakinya, melompat dan tertawa kencang." Lanjutnya, dengan suara yang seolah tengah kembalikan halaman buku lama.
Jimin tersenyum tipis, ikut merasakan kehangatan dari momen yang tersimpan dalam bingkai, lewat bocoran belakang layar yang Dokter Mi-Seon ceritakan.
"Hyun-Jun..." Dokter Mi-Seon kembali bersuara, "Dia anak yang begitu mencintai sekitarnya, sejak kecil."
"Dia kelihatan sangat lucu." Kecil dan menggemaskan. Bahkan menurut Jimin, sampai sekarang pun lucunya Hyun-Jun tidak berkurang—mungkin cerewetnya saja yang perlu dikurangi.
"Memang, dia paling lucu sedunia." Ini suara dari seorang Ibu yang begitu jatuh cinta pada malaikat kecilnya—lembut, hangat dan penuh rasa bangga. Jimin juga bisa melihat hal itu dari pancaran mata Dokter Mi-Seon.
Bohong kalau ada orang yang bilang, netra itu tidak bisa bicara. Justru mereka yang paling jujur daripada rentetan tutur. Sebab mata tidak tahu caranya berdusta. Mereka hanya tahu cara memantulkan isi hati dengan apa adanya.