Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah berkali-kali Jimin menarik-narik rambutnya. Rasa sakit kepala yang tidak juga mau menyingkir darinya. Sudah segala cara untuk mengakali rasa sakit supaya sirnah, tidak berguna. Sia-sia saja. Jimin tetap kesakitan sepanjang jalan pulang. 'Semua ini gara-gara Taehyung.' Saudara tirinya itu terus mengikutinya seperti buntut saja. Sampai-sampai Jimin harus memutar otak supaya bisa membuat Taehyung berhenti membuat risih hidupnya. Semua orang memandang Jimin aneh sebab Taehyung memperlakukannya seperti bayi yang tidak bisa melakukan apapun sendiri, atau mungkin pandangan orang beranggapan Jimin anak lemah yang terus memerlukan orang lain sebagai bala bantuan.
'Sial sekali.' padahal Jimin sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan apapun sendiri. Tidak melibatkan orang lain yang akan menjelma jadi hutang Budi. Tapi Taehyung dan segala tindak tanduknya menggagalkan semuanya. Kesimpulan setiap mata yang memang sudah negatif pada Jimin, bertambah miring saja sebab sikap Taehyung. Bagaimana ia tidak sakit kepala, menghadapi satu Taehyung serasa menghadapi lusinan manusia jenis saudara tirinya.
Melipir ke salah satu toko. Denting bell yang ada diatas pintu berbunyi saat Jimin mendorong pintu kaca dari tempat yang ia sambangi. Berjalan menghampiri penjaga toko, "Aspirin satu strip."
Tiga Minggu, Jimin sudah mengalami hal yang sama selama tiga Minggu. Dalam sehari, pasti ada saja waktu buat kepala Jimin berulah. Entah pagi, siang atau malam. Tidak pernah terlewat. Membuatnya harus memiliki stok obat supaya sakit dikepalanya tidak menganggu aktivitasnya. Terkadang Jimin bertanya-tanya, apa yang salah dengan dirinya sebab rasa sakit yang sama terus datang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Jimin terbiasa membiarkan isi kepalanya runyam dengan pemikirannya sendiri. Sesuatu yang tidak bisa Jimin hentikan meski ingin. Mungkin itu penyebabnya, hal yang tidak bisa Jimin cegah tanpa bantuan pil pahit yang Jimin beli sekarang.
"Diminumnya setelah makan. Sesuai kebutuhan saja, tidak boleh lebih dari tiga tablet sehari." Jimin hanya merespon ucapan penjaga apotek dengan anggukan. Lalu membayar sesuai jumlah yang sudah ditentukan.
Jimin tidak lantas pulang, ia mendudukkan diri dikursi yang sudah disediakan. Mengedipkan erat matanya beberapa kali. Pandangannya sempat memburam, bersamaan dengan langkahnya yang terasa ringan seperti melayang. Jimin tidak ingin memicu kepanikan kalau terus memaksakan dirinya berjalan. Terlihat lemah itu tidak menyenangkan. Mungkin beberapa orang akan bersimpati tapi lebih banyak yang memberikan sorotan sinis kebanding iba. Lagipula tidak ada gunanya mengemis rasa kasihan, manusia sekarang tidak hidup dengan hal-hal seperti itu.
Kursi disampingnya berderit, tapi Jimin tidak melirik sebab merasa tidak tertarik. Namun sebotol air tersuguh dihadapannya, membuat Jimin mau tidak mau menoleh, "Mau minum? Dehidrasi juga bisa jadi penyebab sakit kepala."