Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jimin ditekan kesempurnaan ekspetasi Ayah, karena itu juga Jimin menekan dirinya untuk mencapai yang Ayah inginkan. Ia memukul kepalanya yang bebal, berharap kebodohannya hilang. Memangkas waktu tidurnya jadi hanya berkisar satu sampai dua jam, paling lama. Bergulat dengan debaran jantung dan tremor yang cukup menganggu. Tapi Jimin harus tetap mengerti rasa malu yang Ayah miliki tiap nilai buruk Jimin jadi momok mengerikan buat nama baik keluarga.
Tapi Taehyung tidak punya tekanan itu. Dari yang Jimin lihat, Taehyung bisa belajar secara fleksibel. Menggeser sebuah peryataan yang katanya mempertahankan jauh lebih sulit daripada mendapatkan. Ayah tidak memberi tekanan apapun meski situasi Taehyung juga cukup berbahaya. Persaingan antar murid bukan cuma dongeng saja, itu nyata.
Ayah mungkin tidak mendorong Taehyung, tapi Taehyung mendorong dirinya sendiri. Mengambil bimbingan belajar tambahan diluar jam sekolah, lalu selama disekolah pun, jam istirahat dipakai untuk melatih daya pikirnya dalam menjelaskan soal-soal baik yang mudah maupun yang rumit.
Soalnya, melihat kerja keras Taehyung. Jimin merasa dirinya memang bukan apa-apa. Jangankan menyaingi kepandaian Taehyung, mengimbangi energinya saja Jimin tidak bisa. Ia tidak punya dorongan sebesar itu dalam dirinya. Ditambah dengan kemampuannya yang kurang mempuni, membuatnya semakin terbelakang saja.
Jujur saja Jimin iri. Perasaan yang mendorongnya untuk berpikir kalau Taehyung selalu bisa mengambil kesempatan untuk meninggikan namanya sendiri.
Ayah pernah bilang, 'Taehyung yang pandai saja mau kerja keras. Giliran dirimu yang bodoh malah santai-santai.'
Jimin tidak pernah bisa memejamkan matanya dengan tenang akhir-akhir ini. Dua jam yang ia punya untuk istirahat, tidak benar-benar menjatuhkannya dalam lelap. Suara Ayah, suara Bunda atau suara yang diciptakan oleh kesemrawutan pikirannya sendiri selalu mengganggunya.
Berputar-putar ditelinga Jimin seperti dengungan banyak nyamuk. Jimin benar-benar kehilangan haknya sebagai manusia saat ia juga tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak. Bodoh sekali.
Lalu Jimin melihat pertunjukan yang sangat epik. Taehyung dan kasih sayang Ibunya, tersaji di hadapan Jimin. Ia hanya akan mengisi air, tapi pintu kamar Taehyung yang terbuka dan suara Ibu tirinya yang begitu lembut, menarik perhatiannya untuk berhenti sejenak.
Mungkin hanya jika mungkin Bunda masih ada, Jimin pasti juga bisa ada di posisi Taehyung. Mendapat support yang hangat dan manis dari usapan seorang Ibu diatas kepala, juga segelas susu hangat. Dan itu kekonyolannya, Jimin selalu berharap pada hal yang mustahil, kemudiaan melukai perasaannya. Sesak yang begitu terasa.