Pandangannya

106 14 6
                                        

855 Kata

°•°•°

Tujuh buku atau mungkin sepuluh, dikumpul dalam satu tumpuk, dan Jimin harus mengangkatnya sepanjang koridor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tujuh buku atau mungkin sepuluh, dikumpul dalam satu tumpuk, dan Jimin harus mengangkatnya sepanjang koridor. Dari perpustakaan menuju ruang guru itu tidak dekat, katakanlah lumayan untuk mengundang rasa berat. Hanya saja, apa yang bisa Jimin lakukan selain menyetujui keinginan gurunya, sekalipun batinnya memberi sinyal penolakan besar.

Hari ini, masih sama seperti hari-hari sebelumnya.

Dan ini bukan tentang ketiadaan Taehyung dalam hidupnya. Bukan.

Hari sama yang Jimin maksudkan adalah, jadwal tambahan belajarnya yang menyita lebih banyak waktu. Saat murid lain akan melangkah pulang begitu petang sedang indah-indahnya, sedang Jimin baru bisa melangkah meninggalkan sekolah kala petang mulai usai, tidak jarang saat langit sudah gelap.

Jimin benar-benar punya waktu yang padat, setidaknya sejak berlakunya pelajaran tambahan dalam kesehariannya.

Ini melelahkan, tetapi Jimin pikir, lumayan untuk dorongan belajarnya. Karena setelah ia benar-benar tidak memiliki komunikasi dengan Taehyung, tidak ada yang memberi pengupasan ulang tentang isi dari materi-materi yang sudah diajarkan.

Jadi, Jimin pikir lumayan, meski melelahkan.

Tetapi ini bukan berarti Jimin merasa kehilangan Taehyung. Big no, tidak sama sekali.

Lagipula, meski tidak Taehyung yang memberikan siaran ulang pelajaran, Jimin bisa mencari guru les privat yang kompeten. Dokter Mi-Seon sudah menawarkan untuk itu.

Jadi, Jimin tegaskan, ia tidak merasa memiliki sebuah kekosongan dalam hati selain ruang hampa milik Bundanya.

Tidak ada selain itu.

"Jimin-ah, nanti buku-bukunya ditaruh di meja saja, oke. Saya ada urusan sebentar." Begitu kata guru yang berjalan mendahului, meninggalkan Jimin dengan buku-buku yang guru itu titipkan.

Jimin sendiri hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya, dengan ruang guru sebagai tujuan.

"Terbuat dari apa sebenarnya buku-buku ini." Seperti dari lempengan besi saja. Membuat langkah Jimin jadi berat, sampai pegal  siku dan kebas jari.

Selain banyak, buku-buku itu juga punya ketebalan yang luar biasa membuat Jimin ruwet hanya dengan melihatnya saja.

Coba bayangkan, buku matematika memiliki tebal setengah dari kamus bahasa inggris.

Mungkin, bagi yang pandai-pandai itu hal biasa, tetapi bagi Jimin yang tidak pandai, ia benar-benar ngeri melihatnya—tinta cetak didalamnya macam mengintimidasi secara tidak kasat mata. Seolah tiap angka-angka dalam buku itu, bisa melompat keluar dan menghinanya.

Ditambah pula baunya——bau khas kertas tua.

Sekilas Jimin merasa seperti kuli yang sedang mengangkat tumpukan batu bata dalam pelukannya, bukan buku pelajaran. Punggungnya sampai sedikit membungkuk, dagunya menempel pada permukaan buku paling atas, demi menjaga keseimbangan.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang