Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika Jimin jadi pohon, maka tidak ada alasan untuknya mencintai manusia dengan memberi oksigen melimpah lewat proses fotosintesis. Sebab kebaikan yang membuat hidup mereka berjalan justru disia-siakan seolah tidak berarti apa-apa. Terlebih kalau lihat ruang terbuka Hijau yang justru dibabat hanya untuk ditanam besi dan beton setinggi-tingginya.
Kadang Jimin pikir, jika alam marah, tidak ada lain yang yang harus disalahkan, tentu saja tingkah laku manusia—si penghuni bumi yang tidak berperasaan.
Oh ya, ada hal menarik yang pernah Jimin dengar. Dari Ibunya Dokter Mi-Seon, yang begitu mencintai pohon mapel dan bonsai.
Katanya, 'Tumbuhan lebih berani dari manusia. Contohnya saja, pohon jeruk lebih baik mati daripada menghasilkan lemon. Sedang manusia, daripada memilih mati, mereka lebih suka menjadi orang lain dan bukan dirinya sendiri.'
Kira-kira begitu, bentuk wejangannya, yang mungkin butuh waktu beberapa jam untuk Jimin mencerna sebab otaknya yang tidak terlalu mudah mendapatkan sari Pati dari sebuah kiasan. Terlebih kiasan yang datangnya dari orang tua dengan seribu satu pengalaman hidup dimasa lampau.
Sampai detik ini, Jimin masih terdiam di halte bus dekat sekolahnya. Tidak bosan memandangi sebuah ekskavator yang sibuk mengenyahkan pohon-pohon berukuran sedang, atau mesin-mesin lainnya dengan tugas yang berbeda.
Ia sedang menunggu, datangnya dokter Mi-Seon tentunya. Tetapi karena sudah terlalu lama berdiri di depan gerbang sekolahnya, akhirnya Jimin memilih berjalan sedikit lebih jauh untuk duduk di halte bus.
Sebenarnya ada opsi lain yang bisa mendatangkan kepastian tentang ia akan dijemput untuk pulang atau pulang sendiri dengan bus—dengan menelpon Dokter Mi-Seon dan bertanya. Tetapi sekali lagi, Jimin terlalu sungkan untuk jadi cerewet apalagi itu Dokter Mi-Seon yang sudah begitu sangat pengertian padanya.
Ditambah Jimin juga sangat bersyukur pada Dokter Mi-Seon yang tidak terlalu mendesaknya malam itu—saat ia dengan sengaja memecahkan cermin sebab sesuatu yang tidak logis. Karena jujur saja, sampai saat ini Jimin tidak bisa mencerna keadaan yang ada pada dirinya.
Terkadang ia sadar ini adalah jalan melenceng yang harus ia hindari, namun terkadang, kelelahan mendorongnya untuk percaya kalau yang hadapi sekarang adalah sesuatu yang harus ia percayai dan lakukan.
Terlebih, Jimin merasakan hal-hal aneh yang tidak terdefinisi akhir-akhir ini. Hampir selalunya hal-hal seperti itu ada diluar kendalinya, sekuat apapun Jimin berusaha menggenggam dirinya, dan sisa-sisa kewarasan yang ia punya.