Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jimin-ie."
Sangat lembut, kedengaran manis dan hangat. Seperti angin di musim semi yang membawa harum bunga bermekaran. Jimin bisa merasakan bau rumput hijau yang digelayuti embun. Dalam getir matanya yang berkabut, ia melihat kekosongan.
"Jimin-ah."
Tiba-tiba siluet yang tampak samar, muncul di luasnya hamparan padang hijau. Jimin menyipitkan matanya, berharap mampu memperjelas pandangannya. Dari sana Jimin dapat melihat rambutnya yang tampak tersapu angin, begitu pula pakaiannya.
Sangat terlihat dramatis, bercahaya seperti sorotan utama dalam sebuah cerita. Jimin penasaran, ingin mendekat, tapi tidak mampu merasakan langkah kakinya. Kebas, seperti tidak menapaki bumi.
Dan itu hanya sebatas bentang khayal dibawah garis sadarnya, yang tidak lama dihancurkan oleh intrupsi dari suara Dokter Mi-Seon.
"Tanganmu dingin sekali, Jim." Rematan pelan yang dilakukan Dokter Mi-Seon pada tangannya juga turut andil dalam buyarnya semesta semu yang baru saja Jimin bentuk dalam lamunannya, "Apa ada yang sakit?"
Tatapan Dokter Mi-Seon, tidak berhenti menyiratkan kekhawatiran. Sudah berlangsung semenjak Jimin memilih membuka matanya sebab tercerai-berai angannya. Tidak lantas menghiraukan, Jimin justru menjatuhkan pandangannya pada Taehyung yang berdiri diujung tempat tidur. Orang itu memberikan senyuman tipis, wajahnya tampak tidak bersinar seperti biasanya.
'Gila, aku yang merasa sakit kenapa dia yang tampak paling menderita.' Raut wajah Taehyung begitu kusut, 'Drama Playing victim, Toxic sekali.'
"Jimin-ah?" Jimin langsung memejamkan matanya begitu suara Dokter Mi-Seon kembali terdengar. Ia baru membuka matanya saat merasa siap untuk beradu pandang. Secara bersamaan juga Dokter Mi-Seon kembali bicara, "Ada yang sakit tidak?"
'Ya', Jimin merasakan sakit di seluruh tubuhnya, setiap bagian dan ruas-ruas jarinya. Secara tidak spesifik dimana sumbernya, rasa menyesakkan itu menyebar ke segala penjuru dalam tubuhnya.
Ia mencoba mengingat kebelakang dan mendapati kekacauan sempat terjadi. Matanya langsung melihat kedalam netra Dokter Mi-Seon. Manik itu tampak tenang, tapi Jimin tahu ia bisa hanyut didalamnya. Maka ia putuskan pandang secepatnya. Memilih menatap selimutnya.
Keterdiaman yang membuat Dokter Mi-Seon mengubah kalimat tanyanya, "Kalau begitu, Bagaimana perasaanmu sekarang?"
'Hambar, kosong.' Rasanya seperti ada black hole sebesar galaksi Andromeda, yang tidak bisa Jimin ungkapkan sebab tidak tahu bentuk kata apa yang tepat untuk menggambarkannya.
Setelah ia pikir juga, mungkin orang lain tidak akan paham sama seperti dirinya yang tidak bisa memahami dirinya sendiri. Jimin hanya tahu rasanya sakit, dan ia merindukan Bundanya. Tapi beberapa hal aneh bermunculan. Sesuatu yang sama sakitnya tapi tidak bisa Jimin mengerti.