Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tawa Jimin begitu kencang untuk hidupnya yang diinjak-injak semesta, direndahkan manusia, dan dibodohi dirinya sendiri. Ia menertawakan jalan monoton mengerikan yang selalu ia lewati dalam menjalani hari-hari yang rasanya hanya menggerakkan raga sebab belum waktunya mati.
Jimin bersumpah untuk hidupnya yang payah, kalau ia sudah berusaha.Sekuat tenaga sampai rasanya mau menyerah saat kemudi yang ia pegang terasa hilang kendali dan nyaris patah.
Jimin akan menyebut hal ini biasa, saat nilainya tidak sesuai harapan dan benar-benar membuatnya gila. Jimin menyebutnya biasa karena sudah terbiasa. Tapi tatapan rendah semua orang semakin keterlaluan saja, terlebih saat ia tahu Taehyung berusaha bermain kotor dibelakangnya.
Dengan seluruh kecerdasan dan akal brilian yang Taehyung punya, dengan mudahnya ia mengambil jalan untuk membuat Jimin terlihat tambah bodoh dihadapan semua orang.
"Apa ini lucu bagimu, Taehyung?" Jimin melempar kertas hasil ujiannya yang sudah ia remukkan, tepat diwajah Taehyung, "Apa ini lucu buatmu!"
Emosi Jimin benar-benar tidak terbendung lagi. Saat tahu kalau Taehyung dengan sengaja meminta guru membuat hasil ujian yang palsu untuk diberikan pada Jimin. Sementara yang asli disimpan untuk bukti di hasil akhir nanti. Sungguh sulit dipercaya, Taehyung melakukan hal serendah itu dan Jimin sangat merasa terhina.
"Aku ini benar-benar hiburan ya, buatmu. Apa aku seperti badut dimatamu? Taehyung kau benar-benar keterlaluan sialan!" Jimin menarik kerah pakaian Taehyung. Tidak peduli kalau fabric didalam genggaman tangannya bisa robek kapan saja, "Bicara keparat! Jangan diam saja!"
"Aku tidak akan bicara sebelum amarahmu reda, Jim."
"Brengsek." Melepas rematannya, memberikan dorongan yang cukup kencang. Jimin benar-benar muak. Perasannya sakit luar biasa, dan isi kepalanya mulai bertikai, "Apa maksudmu Taehyung. Apa kau sedang menunjukkan derajatmu sebagai anak selingkuhan Ayah dengan bertindak rendahan. Kau benar-benar anak wanita murahan, Tae. Sikapmu juga semurah itu."
Iya, Taehyung aku ia salah. Tapi caranya adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Jimin dari tekanan Ayah. Disamping itu, Taehyung juga berusaha menghindarkan Jimin dari kekecewaan yang hanya akan menghancurkan Jimin nantinya.
Taehyung sendiri sudah melihat bagaimana perjuangan Jimin yang berusaha memenuhi standar pintar menurut Ayah. Jimin benar-benar berkerja keras sampai mengabaikan dirinya sendiri. Dan Taehyung tidak bisa membiarkan hal itu terus terjadi. Khawatir yang terus menghantui membuat Taehyung tidak bisa tinggal diam lagi.