Ayahnya

98 15 7
                                        

687 Kata

°•°•°

Menyapu air yang turun, membasahi kaca bagian depan dari mobil Dokter Mi-Seon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Menyapu air yang turun, membasahi kaca bagian depan dari mobil Dokter Mi-Seon. Wiper itu sangat bekerja keras mengusir buram pandangan yang diakibatkan hujan deras.

Akhir-akhir ini intensitas cuaca buruk meningkat. Hujan terjadi hampir disetiap malam dengan debit air yang lumayan banyak dan durasi yang cukup panjang. Terkadang dengan guntur berkekuatan sedang.

Tapi kali ini, hanya hujannya saja yang datang, tidak dengan guntur yang membaur.

Mungkin.

Sebelas tiga puluh itu sudah termasuk tengah malam, sudah larut waktu bergulat dengan curah hujan yang tidak singkat. Namun, sampai kini belum ada tanda-tanda dokter Mi-Seon akan keluar dari mobilnya. Lima belas menit lamanya berdiam diri menatap pada wiper yang bergerak, belum pula cukup membuat pemikiran bercabangnya usai.

Melamun berjam-jam.

Semua masih berputar, pada sosok yang kini tinggal bersamanya, Kim Jimin. Berkeliling rumit, berporos pada pertanyaan Jimin tempo hari.

"Bunda, apa Bundaku benar perempuan murahan?"

Lalu, apa Dokter Mi-Seon memberi jawaban? Tentu saja, iya.

Meskipun enggan.

Jimin tidak akan pernah diam, tidak akan pernah usai melontarkan pertanyaan yang sama sebelum Dokter Mi-Seon memberi jawaban. Mendesak kuat agar perkataan yang terjegal di antara bilah bibir Dokter Mi-Seon keluar, menjadi konsumsi bagi telinga Jimin yang begitu mendamba jawaban atas tanda tayanya yang begitu besar memberatkan benak.

"Tentu saja tidak, Jimin." Bahkan dokter Mi-Seon mati-matian mengkondisikan bibirnya agar tidak gemetar, menekan gejolak perasaan akan ucapannya yang beresiko cukup besar, "Darimana perkataan tidak pantas itu berasal?"

"Aku hanya memastikan."

"Memastikan. Bagaimana bisa Kau memastikan hal seperti itu, Jimin-ah. Katakan, bagaimana pikiranmu bisa menghasilkan pertanyaan seperti itu?"


Saat itu, Jimin terlihat begitu santai meski ibu jarinya tidak pernah berhenti menggaruk jari telunjuknya. Dengan membalas tatapan Dokter Mi-Seon, anak itu berkata, "Aku ingin tahu kenapa Ayah begitu membenciku. Jika itu karena Ibu seorang perempuan murahan, aku bisa dengan lega mengubur harapanku tentang Ayah dan memaklumi kebenciannya."

"Mungkin mereka berpisah bukan karena Taehyung dan Ibunya, tapi karena Ibuku adalah perempuan murahan."

"Kim Jimin!"

Gelegar guntur tiba-tiba menyentak, berkedip cepat. Menekan tombol didekat stir, agar wiper di depannya berhenti bekerja. Mengatur napas yang sempat tersengal, di sentak pecut langit ditengah guyuran hujan.

Darimana datangnya guntur itu. Menggelegar macam petir tengah hari.

Putus sudah lamunan, Dokter Mi-Seon memilih buru-buru keluar mobil setelah membuka payungnya. Setengah berlari memasuki pagar rumah, dengan menenteng makanan yang ia beli dijalan pulang.

Menekan kode pintu, kemudian masuk setelah bunyi 'bip' terdengar.

Lampu ruang tengah masih menyala. Mempertontonkan putranya Hyun-jun yang tengah tertidur pulas diatas sofa, lengkap dengan bantal empuk dan selimut yang hangat.

Suara guntur pun tidak sanggup menggoyahkan lelapnya Hyun-jun, luar biasa.

Sedang Jimin, terpejam dengan tangan terlipat yang jadi tumpuan kepalanya, terlelap dengan posisi duduk.

Terlihat pegal.

"Jimin-ah." Benar-benar lelap meski ketidaknyamanan tampak melingkupinya, "Jimin-ah."

"Sedikit, sedikit lagi Jun-ah." Mengangkat kepalanya dengan mata yang masih tertutup, menunjuk kebawah, tepat pada buku yang ada dibawah lipatan tangannya, "Lihat'kan, sedikit lagi ini."

Terkekeh sebentar, ini benar-benar lucu. Ekspresi Jimin maksudnya, "Tapi ini sudah malam Jimin-ah. Kau harus tidur di kamarmu. Bukan di meja sofa."

Sayangnya, Jimin secepat itu untuk kembali tidur, "Jimin-ah." Meski lebih dari tiga kali Dokter Mi-Seon memanggil anak itu agar bangun.

Mengantuk sekali sepertinya.

"Hyun-jun, Hyun-jun." Menggelengkan kepala, melirik pada putranya yang pulas. Tangan Dokter Mi-Seon bergerak membenahi buku-buku yang terbuka diatas meja, termasuk buku yang Jimin tunjuk dibawah lipatan tangannya.

"Bukannya mengerjakan PR sendiri, malah Jimin yang melakukannya. Dasar anak ini." Mencubit pelan hidung putranya. Namun tidak terusik sedikitpun. Benar-benar pulas.

Membereskan alat tulis yang berantakan, menumpuk buku hingga rapih. Sebelum kembali mencoba membangunkan Jimin.

"Ji-" belum juga sempurna panggilannya, ponsel Jimin yang bergetar diatas meja menarik perhatiannya. Layar benda pintar itu menyala, menunjukan nama dari si pemilik panggilan yang masuk.

-Ayah-

Melirik sekilas pada Jimin, sebelum akhirnya memilih mengangkat panggilan yang terus membuat benda pipih itu bergetar.

Begitu ikon hijau di tekan, dan suara Ayah dari Jimin terdengar, ucapan yang masuk hanyalah, "Yya! Anak bodoh! Kenapa lama sekali mengangkat teleponku, jangan bilang jam segini kau sudah tidur! Ayah sudah bilang, belajar Jimin, belajar!" Untaian bentakan kasar.

"Min-Seok-Ssi?"

"Min-Seok-Ssi?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kalau Minki punya Original Fiction, nanti kalian mau baca ga?

Written by Minminki.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang