Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Jadilah dirimu sendiri.'
Ya, sekantung cemilan itu muncul lagi, didalam loker Jimin. Untuk kali ini, ia sudah tahu pelakunya, dan karena itu, ia juga jadi tahu harus pergi kemana dan melakukan protes pada siapa.
Sayangnya, orang yang ia tuju sedang tidak ada. Bahkan teman-teman sekelasnya tidak mengetahui dimana orang itu berada.
Merepotkan saja.
Bukannya Jimin menolak pemberian, atau mungkin bisa dibilang rejeki yang datang sebagai bentuk kebaikan yang diberikan Tuhan. Hanya saja ia muak karena harus berhubungan dengan orang yang tidak ia kenal, berikut pula dengan alasan yang tidak kalah memuakkan.
'...Kau tidak boleh menolak kepedulian yang datang padamu...' begitu katanya- kata gadis itu kemarin.
Konyol pikir Jimin.
Kepedulian? Alergi sekali Jimin mendengarnya, ia kontan teringat Taehyung yang juga punya sikap yang katanya didasari oleh rasa peduli.
Basi, basi sekali.
Tetapi siapa yang mau tahu? Jimin tetap tidak mau, tidak menerima kepedulian dari orang asing dalam bentuk apapun. Ia menolak dikasihani, menolak keras.
Terlihat lemah dan tidak berdaya itu sangat mengerikan.
Harga dirinya benar-benar terluka, dan meski memang hidupnya menyedihkan, tetap saja ia tidak ingin disebut gelandangan kasih sayang dimata orang lain.
Dimata siapapun itu.
"Kau akan mendapat dosa jika melakukannya."
Pergerakan tangan Jimin kontan terhenti, dirinya batal membuang sekantung cemilan ditangan kedalam tempat sampah sekolah.
Suara itu familiar, tidak asing buat pendengaran. Lantas ketika netranya mencari sumber dari ucapan yang diperdengarkan, saat itu pula matanya bersirobok dengan pemicu rasa muaknya, gadis itu.
Gadis berkuncir kuda yang menjengkelkan.
"Membuang-buang makanan itu perbuatan tidak terpuji." Begitu katanya, seraya menampilkan tampang sok-nya. Seolah merasa ucapannya adalah bentuk dari sebuah kebenaran yang tidak ada tandingan.
"Mengganggu orang lain juga sama tidak terpujinya." Jimin memberikan kantung plastik yang ia pegang pada pemilik aslinya, dengan sedikit bumbu kesal yang menghasilkan sedikit dorongan, "Jadi, hentikan saja."