Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terasa hilang, meski tidak sepenuhnya menghilang. Mungkin bisa dibilang berkurang.
Di Musim ujian sekolah memang Taehyung akan sangat jarang terlihat. Orang itu pasti tengah mempersiapkan dirinya untuk mempertahankan tahta juara pertama yang selama ini bermahkota diatas kepalanya. Entah lewat les tambahan, atau mengendap dikamarnya selama berjam-jam dengan tumpukan buku pelajaran.
Sedang Jimin, tidak bisa dibilang bersantai juga. Biasanya Taehyung akan sibuk sekitar tiga atau dua Minggu sebelum ujian tetapi Jimin, ujian atau tidak ia harus tetap membuat otaknya bekerja keras memahami setiap pelajaran baru ataupun pengulangan. Sama saja, tidak ada bedanya.
Jadi sekarang ia ingin meregangkan saraf-saraf otaknya yang tegang dengan semangkuk mie instan. Menunggu didepan kompor sekitar tiga menit sampai akhirnya mie yang ia tunggu-tunggu matang. Dengan lap kecil sebagai alas tangan, Jimin pindahkan panci kecil mienya keatas meja pantry.
Soal rasa jangan ditanya, harumnya saja sudah menjelaskan. Meskipun Jimin tidak bisa memasak makanan rumahan, tapi kalau soal mie instan ia bisa diandalkan. Ia sudah berteman dengan mie instan sejak kecil, hampir disetiap harinya.
"Uwah, Shh..." Baru dilihat, Jimin sudah bisa membayangkan rasa didalam mulutnya. Ia mengetuk sumpitnya supaya sama rata, lalu mengapit mienya, meniup sampai sedikit lebih dingin. Sudah siap masuk kedalam mulutnya, kedatangan Taehyung mengintrupsi pergerakannya. Kontan membuat Jimin menurunkan kembali sumpitnya.
'Ada bandit mie instan.' Jimin paling tidak suka dengan kebiasaan Taehyung yang satu itu. Meminta sama dengan menganggu, apalagi Jimin tidak suka berbagi apapun dengan Taehyung.
Saat Taehyung berjalan mendekat menghampirinya, secara refleks Jimin menggeser mangkuk mienya. Menjauhkan dari jangkauan Taehyung, disembunyikan pokoknya.
"Jimin-ah." Tapi Taehyung tampak tidak tertarik. Orang itu malah menunduk lesu. Menghela napas panjang, lalu kembali mengangkat pandangannya. Tersenyum tipis, "Kau sudah makan nasi belum?"
Kemudian menaikkan satu paperbag berukuran sedang, "Aku beli Bibimbap tadi. Makan yang ini dulu, Jim. Kau belum makan nasi sejak pagi." Taehyung khawatir asam lambung Jimin naik kalau perut kosongnya langsung diisi dengan mie instan.
Jimin tidak merespon apapun, dan Taehyung tidak memperdulikan itu. Ia mengeluarkan wadah Bibimbap dari dalam paper bag. Mengambil sendok dan segelas air untuk Jimin.
Sementara yang diperhatikan justru malah sibuk memperhatikan. Buat Jimin, Taehyung terlihat aneh. Atau mungkin tidak, Jimin sendiri tahu kalau belajar itu melelahkan dan mungkin Taehyung sedang merasa kelelahan setelah belajar dalam waktu lama di tempat lesnya. Jadi wajar saja kalau kelihatan setidak bergairah itu.