Isyarat Sunyinya

78 14 0
                                        

1055 Kata

°•°•°

Banyak yang mengatakan, jika terlalu mudah menunjukan sisi lembut, orang lain akan hilang rasa segan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Banyak yang mengatakan, jika terlalu mudah menunjukan sisi lembut, orang lain akan hilang rasa segan. Lama kelamaan bisa bersikap kurang ajar, dan kurang menghargai.

Padahal tidak setiap kelembutan, lahir dari kelemahan. Namun banyak orang salah mengartikan hingga berpikir untuk mempermainkan.

Tidak usah jauh-jauh, ambil saja Hyun-Jun sebagai contohnya.

Anak umur tujuh tahun itu tengah bersila diatas meja belajar Jimin, tangannya sibuk mengelupas stiker dari lembarannya, kemudian menempelkan benda itu pada wajah Jimin—satu per satu, tanpa izin, tanpa ragu, dan tanpa takut-takut.

Ngelunjak memang.

Air wajahnya sangat serius, dengan kedua alis mengerut seperti seniman yang tengah mengerjakan mahakarya besar.

"Hyun-Jun." Suara Jimin datar, tangannya menangkap tangan Hyun-Jun yang hendak kembali menempelkan stiker kecil diwajahnya, "Jangan berpikir aku tidak bisa marah padamu."

Hyun-Jun malah tertawa kecil, tidak ada rasa takut yang bersemi di wajahnya, "Marah saja, Kak Jimin'kan memang suka marah-marah. Jun sudah biasa."

Tidak menyangka sekali Jimin, kalau Hyun-Jun akan bicara begitu. Tetapi ia, tidak menyerah untuk tetap tampak menakutkan, "Aku tidak sedang bercanda." Dengan mempertahankan nada datar dan dingin.

"Kak, supaya wajah Kakak tetap enak dilihat saat marah-marah nanti. Aku tempelkan stiker matahari tersenyum disini ya." Sengaja sekali Hyun-Jun menekan lebih kuat pada tengah-tengah dahi Jimin yang ia tempeli stiker matahari.

Dan Jimin benar-benar terlihat bukan apa-apa dimata Hyun-jun—segalak apapun wajahnya, tidak mampu menyurutkan keberanian sekuat baja yang anak itu punya. 

"Kalau kutarik hidungmu sampai panjang, jangan menangis ya." Ucapan Jimin terdengar mengancam, tetapi bukan berarti benar-benar ingin menyakiti.

Sudah begitu pun, Hyun-Jun tetap menganggapnya seperti nasi tanpa garam—tetap ditelan, tapi hambar, "Kenapa jangan? Rugi kalau tidak menangis, kan bisa sekalian minta belikan susu stoberi sama Ibu."

Jimin langsung menghela napas—ucapan Hyun-Jun sangatlah lihai, "Pintar sekali bibir bebekmu ini bicara."

Dengan sengaja Jimin mencomot bibir Hyun-Jun sampai anak itu manyun-manyun dan marah-marah.

Serta mengaduh tidak terima, "Kak! Jangan begitu! Nanti lepas bibir Jun."

"Biar saja, daripada jelek punya bibir mirip bebek." Ingin Jimin comot lagi bibir Hyun-Jun, tapi tangan anak itu menepis lebih dulu.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang