Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menabrak sisi kiri, lalu berpindah ke kanan. Lalu kiri lagi, kemudian kanan. Terus bergerak seperti itu bola-bola dari pajangan newton's cradle diatas meja kerja Dokter Mi-Seon.
Sudah lebih dari sepuluh menit Jimin memandang kesana. Bukan tanpa alasan, sebab ia ada dalam kesunyian yang tidak tahu harus melakukan apa, jadi pikirannya dikuasai lamunan.
Perlahan pemikirannya bergerak mengulang, mengulas, memicu, memancing, apapun bentuk lampau dari pengalaman Jimin selama hidupnya. Sejak ia mengerti apa itu rasa sakit yang tidak tampak lukanya, sampai kini ia mulai mengerti banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.
Awalnya hanya kerancuan halus, tetapi semakin lama kian menebal. Setiap kalimat yang terlintas jadi jelas. Ini hanya rekaman ulang, dari bagian yang sangat ingin Jimin lupakan. Matanya terus melihat pada pajangan yang bergerak monoton pada landasan yang itu-itu saja, dan begitu-begitu saja. Tetapi pikirannya tidak diam, bercabang-cabang secara tidak terarah.
Yang paling utama, dan pertama menganggu jalan pikir Jimin adalah ucapan Hyeon-Gi. Masih terlalu segar di telinganya. Perkataan yang berputar-putar secara berulang,
"Ibuku melihat foto Ibumu. Kau tahu apa yang dia katakan? Ternyata, Ryu Hong-Ju. Wanita murahan itu sudah mendekam di alam baka." Bukankah kalimat ini selaras dengan ucapan Ayah yang pernah mengatakan, 'Bagimana aku bisa yakin kalau puluhan laki-laki sudah pernah menidurimu!" Ucapan yang terdengar sangat rendah dan murahan.
Anggaplah Jimin termakan omongan Hyeon-Gi, tetapi ia merasa kalau orang itu tidak merekayasa ucapannya. Sebab siapa yang bisa dengan mudah mengetahui masa lalu seseorang, sementara Jimin tidak pernah bercerita pada siapapun, Bunda juga sudah tiada, dan Ayah sangat anti kalau sudah menyangkut hubungan masa lalunya dengan Bunda.
Terlebih, banyak ucapan dari Hyeon-Gi yang sinkron dengan ucapan Ayah saat terlibat percekcokan dengan Bunda.
Ini terlalu presisi untuk dibantah. Dan Jimin punya ketakutan besar akan hal itu.
Mungkin Hyeon-Gi benar, ada banyak hal yang tidak Jimin ketahui. Tetapi ia sendiri tidak berani untuk mencari tahu hal tersebut, meski Hyeon-Gi menawarkan diri.
Jimin bisa saja memenuhi syarat yang Hyeon-Gi berikan, sebab ia juga tidak mau terlibat hal apapun dengan Taehyung. Tapi masalahnya, Jimin sering membuat kesimpulan dalam benaknya dengan hanya mengandalkan ingatannya tentang pertengkaran Ayah dan Bunda.
Dan semuanya hanya berkonotasi negatif.
Jimin takut, kesimpulan buruknya stlama ini ternyata benar. Jikalau ucapan Ayah tentang Bunda itu adalah sebuah kebenaran.