Senyapnya

78 10 2
                                        

760 Kata

°•°•°

Sekitar dua atau tiga menit yang lalu, mobil Dokter Mi-Seon beranjak dari hadapan Jimin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sekitar dua atau tiga menit yang lalu, mobil Dokter Mi-Seon beranjak dari hadapan Jimin. Menyisakan dirinya yang masih berdiri terdiam di depan jalanan menuju gerbang sekolahnya.

Matanya terpejam sejenak, menghela napas cukup panjang dan dalam. Hari ini adalah kegiatan yang biasa Jimin lakukan—bersekolah, namun rasanya begitu berat hingga membuat kepalanya gerah dipagi yang cerah.

Tetapi tidak apa, Jimin hanya perlu menjalaninya hingga waktu pulang sekolah yang sudah ditentukan tiba. Ia bisa tetap berusaha belajar atau pergi ke ruang kesehatan saat daya pikirnya sudah tidak mampu diajak bekerja sama. Yang terpenting, ia tidak mengotori absennya dengan ketidakhadiran.

"Hey, Morning bro."

Bencana ya, Jimin menyebutnya bencana. Saat sebuah tangan merangkul pundaknya tiba-tiba dan sukses membuatnya tegang, Jimin pastikan itu bencana. Terlebih yang menyapanya diawal memulai hari beratnya adalah orang yang memiliki kebusukan hati, Min Hyeon-Gi.

Si bocah sialan.

"Ada apa dengan wajahmu? Tidak senang begitu. Memangnya Kau tidak merindukanku huh?" Mencolek sembarangan dagu Jimin.

Ini gila, anak itu bertindak semaunya dan lebih gila lagi, Jimin hanya mampu membuang pandangan. Ia benar-benar berjaga-jaga agar Hyeon-Gi dan mulut kampretnya itu tidak berbicara yang bukan-bukan, terlebih soal Bunda.

Jimin berusaha menjaga suasana hatinya tetapi sejahtera.

"Tapi terserah sih, Jim. Aku hanya ingin mengatakan Terima kasih." Oh, lihat wajah angkuhnya. Belum lagi gayanya yang menarik turunkan sebelah alisnya setelah mengucapkan omong kosong berupa kata 'Terim kasih.', "Hari-hari ini aku bisa tidur nyenyak. Matematika dan fisika tampak menyenangkan dimataku, pelajaran bahasa seperti sebuah taman bermain. Kau memang hebat Jim, menghandle Taehyung adalah keahlian mu." Menepuk-nepuk bahu Jimin, berlagak kali seperti mereka akrab saja.

"Kau bau, Hyeon. Minggir." Melepaskan diri dari rangkulan Hyeon-Gi yang memaksa, "Apa kau berlari ke sekolah. Kecut sekali baumu."

Melirik ke kiri dan ke kanan, sumpah Hyeon-Gi takut ada yang dengar. Meskipun ucapan Jimin itu bualan, tetap saja, Hyeon-Gi takut ada yang percaya, "Sialan mulutmu, Jim."

"Mulutmu lebih sial." Melengos pergi, tidak ingin lagi Jimin terlibat konversasi dengan Hyeon-Gi.

Sayangnya, Hyeon-Gi sangat ingin menempeli Jimin, "Tunggulah sebentar Jim, kenapa juga harus buru-buru. Sekolahnya tidak akan lari kemana-mana."

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang