Manuvernya

97 14 14
                                        

4000 Kata

°•°•°

Mata Jimin baru terbuka saat tiba-tiba saja rasa mual menghantam perutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mata Jimin baru terbuka saat tiba-tiba saja rasa mual menghantam perutnya. Bukan sekedar mual biasa—melainkan seperti gelombang tajam yang seakan menusuknya dari dalam. 

Tangannya tergesa-gesa menyibakkan selimut, napasnya pendek dan gemetar. Ia bangkit dengan tubuh yang belum sepenuhnya sadar, hingga sedikit limbung. Untungnya masih bisa ia tahan. Langkahnya dibawa berlari memasuki kamar mandi.

Langsung berjongkok di depan kloset. Tangannya ikut mencengkram penutup dudukannya.

Dengan panik mendorong keluar rasa mualnya—memuntahkan isi perutnya yang tidak seberapa, dalam beberapa kali hentakan. Asam, pahit dan panas, seperti luka yang pecah di dalam perutnya.

Sampai keringat dingin ikut bermunculan membasahi pelipisnya. Punggungnya ikut membungkuk makin dalam, seiring gelombang kedua dan ketiga yang kembali memaksa keluar.

Tubuhnya mulai gemetar, dan nafasnya tercekat—seolah paru-parunya enggan bekerja mengolah napasnya. Membuat dunia di sekeliling terasa mengabur dan menyempit.

"Jimin-ah!" Mendadak muncul suara yang terdengar samar dalam telinga Jimin yang berdengung.

Disusul debuman kecil dari nampan yang ditaruh tergesa di atas meja dekat pintu kamar mandi—Jimin menebak, itu Dokter Mi-Seon.

"Ya, Tuhan." Berusaha menekan kepanikan, Dokter Mi-Seon langsung berlutut di samping Jimin. Tidak peduli dengan lantai yang dingin atau Jimin yang kacau dan kotor.

Sedang Jimin merasa rasa sakit di perutnya mulai menjalar ke tengkuk, membuat Jimin terbatuk. Lalu mengerang pelan—bukan karena gelombang mual yang lagi-lagi memaksa keluar, melainkan sebab badannya benar-benar tidak bisa diajak bekerjasama. Meskipun Jimin sudah mencoba menahan diri, dan berusaha menenangkan gejolak di perutnya, tetap saja mualnya tidak hilang.

Dan ia, nyaris kehabisan tenaga.

"Oke, Jimin tenang. Tarik napas pelan-pelan, perlahan." Tangan Dokter Mi-Seon bergerak memegang pundak Jimin dengan mantap, meski jantungnya sendiri berdebar keras—seakan-akan mau meledak di dalam.

Jimin sendiri tidak menjawab, namun matanya yang sempat terpejam menahan sakit, kini perlahan terbuka—redup dan berkaca-kaca. Melihat sekilas wajah Dokter Mi-Seon, sebelum kembali menunduk lagi, menekan dadanya sendiri, sebab desakan dari dalam perutnya yang masih belum reda.

Dibalik kecemasan yang melanda sanubari, melihat Jimin menatapnya tadi, membuat Dokter Mi-Seon lelah hati—singkat namun menikam, seperti anak panah yang melesat kencang. Meskipun ia berusaha terlihat tenang di hadapan Jimin, namun sebenarnya pikirannya bercabang, tentang sebab musabab Jimin bisa sampai seperti sekarang.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang