Jaraknya

119 13 5
                                        

1229 Kata

°•°•°

Hembusan angin meniup dedaunan, gugur yang kering jatuh ke tanah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hembusan angin meniup dedaunan, gugur yang kering jatuh ke tanah. Seperti layaknya hujan, berjatuhan begitu banyak hingga tidak dapat dihitung pakai tangan. Kelihatan menenangkan, terlebih untuk jiwa-jiwa kedinginan yang merindukan kehangatan dari sekedar segenggam bara yang menyala.

Dan Jimin, tidak memiliki hal semacam itu sekarang, segenggam bara yang menyala. Semuanya redup, mati tidak bersisa. Dan pada akhirnya, seseorang tetap akan jadi seorang, baik lahir maupun mati.

'Aku dengar-dengar Taehyung masuk tim basket lagi. Kedengaran gila, tapi ini serius.'

'jangan mengarang, masuk tim basket di semester akhir itu konyol. Taehyung tidak akan melakukan hal sebodoh itu, dia bisa saja merusak nilai akademiknya.'

'Kalau tidak percaya, periksa saja daftar anggota basket di Mading.'

Pembicaraan sekilas yang membuat Jimin tertarik melangkahkan kaki ke tempat dimana Mading berada, sebelum akhirnya ia berakhir melamun di tengah hujan daun kering.

-Kim Taehyung kelas XXI-

Nama itu tertulis disana, sebagai kapten tim, dan siap mengikuti turnamen antar sekolah yang akan diadakan bulan depan.

Cari mati pikir Jimin. Bagaimana bisa Taehyung mengambil keputusan gila seperti itu. Pasalnya, bisa Jimin bayangkan betapa marahnya Ayah dengan tindakan yang Taehyung lakukan.

Ingat, non akademik tidak pernah membuat Ayah bangga, tidak akan pernah.

Dulu, saat Taehyung pertama kali memasuki sekolah menengah atas, Taehyung sangat antusias mengikuti club basket, sebab saat di sekolah menengah pertama, ia benar-benar tidak bisa menyentuh bola berbahan karet itu dengan leluasa, karena Ayah benar-benar melarangnya. Hanya belajar, belajar, dan belajar yang Ayah tekankan.

Karena Taehyung dibentuk untuk mewarisi kehormatan keluarga yang Ayah jungjung setinggi harga dirinya sendiri.

Taehyung berpikir, menginjak sekolah menengah atas itu berarti segala keputusan atas dirinya menjadi miliknya sendiri. Sedang nyatanya, Ayah masih ikut campur disana, hingga Taehyung hanya bertahan tiga Minggu dalam club basket sebelum kembali memfokuskan diri dengan segala hal yang berbau akademik, sesuai keinginan Ayah.

Meskipun Taehyung juga potensial dalam bidang bola pantul itu.

"Pada akhirnya, Taehyung mendapatkan apa yang dia inginkan." Sedang Jimin, Jimin tidak pernah memiliki apapun, sejak awal hingga kini. Tangannya kosong, dan hanya bergetar seperti orang bodoh, berkeringat banyak seperti orang sakit, bergerak lemah layaknya orang yang mendekati ajal. Kadang Jimin berpikir, "Aku hanya hidup, karena tidak bisa mati." Sampai Tuhan yang menjemputnya sendiri.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang