Agendanya

75 10 2
                                        

1008 Kata

°•°•°

Semua yang ada dihadapan Jimin harusnya tampak nikmat, makanan yang terhidang cukup banyak harusnya menggugah selera makannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semua yang ada dihadapan Jimin harusnya tampak nikmat, makanan yang terhidang cukup banyak harusnya menggugah selera makannya. Tetapi Jimin justru merasa mual hanya dengan memandang semangkuk nasi.

Matanya tidak punya daya untuk mengangkat pandangan, lehernya tidak merasa pegal karena terus merunduk, atau kutikula jari telunjuknya yang mulai terangkat dan memerah.

Mereka, Ayah dan Jimin ada dalam situasi canggung yang cukup lama. Jimin yang tidak mau bertindak karena takut salah, dan Ayah yang sudah muak.

Ayah menyebut ini tanggungjawab dan kode etiknya sebagai orang tua. Meski dirinya sudah jengah, pada akhirnya kekhawatiran tentang masa depan keluarganya mendorong dirinya untuk menemui Jimin, tidak hanya sekedar menelponnya saja seperti yang sudah sudah.

"Ini."

Ayah mendorong sebuah ponsel diatas meja, hingga benda pipih itu meluncur ke hadapan Jimin.

"Untuk bicara denganku, pakai ponsel itu. Hanya aku yang tahu nomornya, dan Kau tidak boleh memberitahu nomor ponsel itu pada siapapun."

"Menjadi banyak bicara itu merepotkan, terkadang hal yang tidak seharusnya kau bicarakan dengan orang lain justru keluar sebagai kelemahan."

Raut Ayah santai, hanya nada bicaranya yang tidak mengandung keramahan.

"Angkat panggilanku tidak peduli jam berapapun itu. Ingat Jim, yang aku lakukan adalah untuk kebaikanmu. Jadi jika kau berpikir Ayahmu ini kejam, berarti kau yang tidak menyayangi dirimu."

"Kau masih mengonsumsi obatnya?" Untuk itu Jimin mengangguk cepat, meski masih setia menunduk seperti kepalanya adalah bagian tubuh paling berat, "Ini untuk cadangan."

Ayah memberikan paperbag berukuran kecil, "Kau harus fokus belajar, Jimin. Sekaya apapun Ayahmu ini, sebermatabat bagaimana pun Ibumu, atau sepintar-pintarnya Kakakmu, semuanya akan hancur jika dirimu terus jadi batu hambatan begini. Mereka akan terus menjadikanmu bahan untuk menghina keluarga ini. Kau harus mengerti."

"Jangan jadi duri yang melukai keluargamu, Jimin."

Tanpa Jimin perlu melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia sudah bisa menggambarkan dalam benaknya bagaimana raut Ayah sekarang, tatapannya yang terbayang jelas lewat tuturnya yang kelewat pedas.

Tidak ada sela untuk Jimin membela dirinya, bahkan sepatah kata pun Jimin tidak mampu. Semua itu tersangkut dalam tenggorokannya, kemudian dihalangi dengan rasa takut yang semakin membungkam tuturnya.

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang