Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aroma manis menguar, ke setiap sudut dapur—campuran dari harum mentega cair, vanila, dan gula yang meleleh. Mengundang rasa lapar untuk datang menyambangi perut yang keroncongan.
Semua itu berasal dari kegiatan Dokter Mi-Seon yang menghangatkan pagi.
Wanita itu, sibuk menuangkan adonan wafel kedalam cetakan berbentuk bintang. Suara desis perlahan terdengar saat adonan mulai matang, berwarna keemasan dan menggoda selera.
Sedang disampingnya, ada Hyun-Jun. Bocah itu duduk di kursi meja makan, tangan mungilnya cekatan mencetak lembaran keju menjadi bentuk bintang kecil. Dengan sangat fokus dan hati-hati, Hyun-Jun menekan cetakan keju agar bentuknya sempurna.
"Lihat, Bu. Jun bisa!" Seru anak itu dengan suara ceria, sambil menunjukan satu bintang kecil hasil karyanya.
Dokter Mi-Seon tersenyum hangat, ikut senang melihat antusiasme putranya. Meski masih mengantuk sedikit-sedikit, "Wah, hebatnya superhero Ibu."
Itulah pemandangan yang Jimin lihat dari ambang pintu dapur—sederhana, penuh kehangatan, dan kebersamaan. Cerahnya mengalahkan cahaya mentari pagi yang memantul di lantai.
Sebelum masuk, Jimin sempat memejamkan matanya sejenak, saat dirasa pening kembali menyambangi kepala—membayang pelan, seperti kabut tipis di pelipis.
Ia tidak tidur lagi semalam. Atau mungkin, hampir setiap malam. Terkadang karena belajar, atau murni sulit tidur. Sedikit masalah maag—lagi dan lagi. Dan kadang juga sebab ia terlalu lama mengobrol dengan presensi asing yang, entah darimana munculnya.
Jimin mengalaminya di setiap malam, hampir di setiap malam.
Berjuang sampai rasanya hampir mati, bersama gelapnya malam hari. Lalu paginya seolah tidak ada yang terjadi—Jimin berusaha melupakannya. Ia hanya akan bangun dari tempat tidur, mencuci wajah di wastafel kamar mandi, dan keluar dengan sugesti di kepala—bahwa ia tetap Jimin yang kemarin, Jimin yang biasanya, dan ia baik-baik saja.
Siklus monoton yang terus berulang, selama berbulan-bulan. Dan semuanya terasa lebih intens, sejak ia meninggalkan rumah lamanya. Dengan alasan, yang Jimin tidak ketahui.
"Jimin-ah?" Sebuah tangan mendarat di bahu Jimin, merangkul ringan. Suaranya familiar—tenang dan ramah. Itu adalah Ayah Hyun-Jun, "Kenapa diam saja disini. Ayo, masuk. Kita sarapan."
Jimin menoleh, memberikan senyum—seadanya, karena Jimin memang biasa begitu—datar-datar saja. Bisa dikira aneh nanti kalau ia tiba-tiba sumringah, meskipun ada perasaan aneh yang mendorongnya melakukan hal itu.