Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Katanya, permen dan coklat adalah cara alam menebus hari Senin. Tetapi bagi Jimin, dua hal itu adalah cara untuknya berbaikan dengan seorang anak kecil—Hyun-Jun.
Anak tujuh tahun itu tidak seceria biasanya. Tidak banyak bicara, tidak banyak bertingkah, tidak banyak gaya—khususnya pada Jimin. Selebihnya, anak itu tampak bersikap seperti biasanya. Tersenyum saat bersama Ayahnya dan Ibunya, berceloteh ringan dengan teman-teman sebayanya yang ia temui di depan gerbang sekolah.
Berarti masalahnya ada pada siapa?
Sudah jelas—tentu saja Jimin.
Semua orang di rumah Dokter Mi-Seon tahu. Bahkan benda-benda mati di rumah itu pun tahu—terutama yang berada di dapur—jika saja mereka punya mata dan telinga.
Mereka semua jadi saksi, dari insiden Jimin yang membentak Hyun-Jun dan membuat anak itu ketakutan.
Hingga Jimin punya rasa bersalah yang parah. Intens di jam 02:07 dini hari, saat ia masih berkutat dengan buku-buku, dan materi sekolah. Membuat rasa penuh dikepala, bukan karena isi pelajaran yang Jimin pelajari—melainkan karena pikirannya sendiri.
Benaknya terus ditimpa oleh perkara-perkara yang tidak ia lakukan dengan benar.
Tentang perangainya ketika menghadapi Dokter Mi-Seon. Tentang bentakan tajam yang ia layangkan pada Hyun-Jun. Tentang gelas yang pecah, darah yang menetes, dan bagaimana semuanya tampak seperti serpihan dari dirinya yang hilang kendali.
Rasa itu tidak reda. Justru bertahan—seperti virus yang menggerogoti dari dalam, perlahan tapi pasti dan sangat konsisten—hingga pukul 19:20 malam. Menganggu waktu belajarnya dan menyabotase fokusnya.
Jimin tahu, ia harus segera mengakhiri perasaan gila ini. Agar tidak terus bertahan dan mengganggunya lebih lama lagi.
"Ini." Maka dari itu, Jimin memberikan sekantong permen dan sekotak cokelat, pada Hyun-Jun.
Atensi Hyun-Jun langsung teralihkan dari bangau kertas yang sibuk ia lipat. Anak itu tidak langsung menyambut, tidak pula menolak. Hanya menatap permen dan cokelat yang ada disodorkan ke depannya.
Tatapannya bergeser—dari bungkusan itu ke wajah Jimi, lalu berpindah lagi ke permen dan cokelat, sebelum akhirnya kembali menatap Jimin.
Mata kecilnya yang bulat dan berbinar-binar menyuarakan kebingungan—seperti ada tanda tanya besar disana.
"Itu untukmu." Akhirnya Jimin memperjelas, dengan tenang dan pelan—karena ia paham arti sorot mata yang Hyun-jun tunjukkan.
Namun, Hyun-Jun tidak langsung bereaksi apapun. Ia tetap diam, tetap menatap Jimin—meski sorot bertanya-tanya sudah pergi, digantikan sesuatu yang tidak kalah sunyi.