Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memangku dagu diatas tangannya yang bertaut.
Tidak, Dokter Mi-Seon tidak sedang merapalkan doa. Meski matanya terpejam, ia hanya sedang menetralisir pening dikepalanya. Terlalu banyak kafein yang masuk memang sangat buruk untuk kesehatan.
Tetapi, sungguh sayang Dokter Mi-Seon tidak bisa menanggulangi hal tersebut. Pasalnya, ia benar-benar membutuhkan beberapa cangkir kopi untuk tetap terjaga. Sebab tidur atau tidak, sama saja hatinya tidak tenang.
Hanya ada dua pilihan, tidak tidur atau tidur dengan gelisah.
Maka Dokter Mi-Seon memilih tetap membuka matanya dan membiarkan buah pikirannya tumbuh subur dalam benaknya. Meski memberatkan, ini jauh lebih baik daripada terpejam dalam kegusaran.
"Jimin?" Oh Dokter Mi-Seon kembali tenggelam dalam momen itu, malam dimana jantungnya dibuat berdebar-debar cepat karena netranya melihat Jimin yang hampir membuat dirinya sendiri sekarat, "Jimin-ah, Kau dengar Bibi?"
Malam itu, meski Dokter Mi-Seon memanggil Jimin berkali-kali dan bertanya tentang kemana fokus Jimin bermuara, anak itu hanya berdeham singkat dengan pandangan yang tidak pernah lepas pada satu arah.
Ia benar-benar bertanya-tanya. Segala kemungkinan buruk berusaha dicegahnya dan berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan ia kerahkan, Jimin tetap jatuh pada lubang yang sangat dokter Mi-Seon wanti-wanti.
Pada akhirnya ia melihat, anak umur enam tahun yang dahulu berusaha ia selamatkan, kini terjebak didalam hal yang ia takutkan.
Memang, ini hanya asumsi kasar yang masih butuh pengawasan dan pengembangan untuk mempermulus kesimpulan. Hanya saja, itu benar-benar tampak janggal dimatanya untuk ia menciptakan dugaan positif didalam kepalanya.
Secara spontan, perspektifnya terdorong pada hal yang seharusnya tidak dialami Jimin yang masih remaja, tidak dialami Jimin di masa-masa emasnya dalam mengeksplor jati diri dan jalan hidupnya.
"Jimin-ah, boleh Bibi lihat tanganmu? Bibi mau memastikan, tanganmu terluka atau tidak."
Itu hanya goresan-goresan kecil, ia memastikannya dengan sangat detail. Tidak ada luka besar apalagi sampai menganga dan berdarah-darah.
"Um, Bibi bersihkan ya pakai air hangat, supaya tidak bengkak."
Ekspresi Dokter Mi-Seon, ia menjaganya senetral mungkin. Sebab terkadang Jimin meliriknya atau bahkan melihat kearahnya secara terang-terangan.