Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kadang sesuatu terjadi, mungkin karena kita benar-benar menginginkannya.
Selayaknya Taehyung kecil yang berdoa setiap malam sebelum jatuh tertidur—dengan suara yang nyaris tidak terdengar, hanya dirinya dan langit yang bisa paham. Tangannya saling menggenggam, matanya terpejam, seolah dengan begitu, doanya akan cepat terkabulkan.
"Tuhan, Taehyung-ie ingin punya adik. Tidak masalah laki-laki atau perempuan. Taehyung janji, akan Taehyung jaga baik-baik."
Hingga akhirnya Jimin yang mungil dengan pipi mirip mochi stroberi datang ke dalam rumahnya. Mengubah kesepian dalam diri Taehyung lebih berwarna. Setiap sudut rumahnya jadi tampak lebih terang, lebih cerah, hanya karena suara tawa riang Jimin yang mengudara.
"Ini betulan ada ikannya, Kak?" Tanya Jimin, mata bulatnya menatap air dengan harapan polos yang sulit di ganggu gugat kenyataan.
Taehyung yang sempat melamunkan wajah Jimin saat pertama kali datang padanya, kembali memaku atensi pada si kecil yang mulai goyah semangatnya.
"Ada, kemarin Kakak lihat ada ikannya." Sebenarnya Taehyung juga ragu, tapi tidak mau mematahkan harapan Adiknya. Jadilah ia jawab begitu.
Berjongkok ditepi parit terbuka, berukuran sekitar lima kotak lantai. Mereka berdua masih menggunakan jas hujan yang melindungi pakaian dan tas yang mereka pakai dari hujan yang kadang reda dan kadang datang. Sepulang dari sekolah tidak tunggu sampai rumah dulu, pokoknya langsung melancarkan aksinya—memancing ikan.
Sebenarnya yang lihat di dalam parit itu ada ikannya, cuma Taehyung saja. Makannya ia antusias mengajak Adiknya memancing, guna menunjukan kalau ia lihat ikan disana. Soalnya jarang-jarang ada ikan di parit, meskipun airnya jernih.
"Mana Kak ikannya?" Jimin mendesah kecewa. Tangannya sudah pegal memegang pancingan dadakan yang mereka buat dari ranting panjang, benang jahit, dan peniti bengkok sebagai kailnya.
Tidak ada ikan yang tersangkut di pancingan. Jangankan terpancing, yang lewat pun tidak ada.
"Kakak bohong ya?" Gumam Jimin dengan suara pelan, matanya menyipit penuh kecurigaan.
Hingga senyum kecut mewarnai wajah Taehyung. Bergerak sedikit sedikit, mendekati Adiknya. Kemudian mengusap kepalanya, "Mana bisa Kakak bohong sama Jimin-ie. Betulan loh, Kakak lihat ada ikannya kemarin."
"Terus sekarang mana ikannya?" Mengerut dahi Jimin, langsung murung rautnya. Merasa kehilangan sesuatu yang sudah ia nantikan—dapat ikan.
"Mungkin Ikannya lagi sembunyi." Taehyung menjawab, setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh, "Tahu tidak? Katanya Ikan itu bisa baca pikiran. Jadi kalau yang mancingnya tidak sabaran, mereka tidak mau datang."