Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Buku itu bilang, rumus fungsi Cosinus adalah f(x) = cos(x), buku itu juga bilang, soal yang harus Jimin kerjakan adalah jika cos(x) = 1/2, berapakah sin(x) dan tan(x)?, dan buku itu juga menunjukkan, belum ada jawaban yang Jimin tuliskan. Semua masih kosong, bahkan pada soal-soal tentang fungsi trigonometri lainnya.
Jimin hanya menatap dengan pikiran yang kacau. Sudah habis selembar kertas untuk jadi wadah coretan, namun belum ada jawaban pasti yang bisa ia berikan.
Ragu, takut, merasa bodoh.
Padahal ini hanya latihan soal biasa, tidak ada yang menunggunya, tidak ada yang mengawasi, dan tidak ada yang akan memakinya kalau salah jawaban nanti.
Kamarnya sepi, hanya ada dirinya dan buku matematika dihadapannya. Tetapi Jimin merasa diawasi hingga takut menorehkan hasil hitungan karena merasa tidak pasti.
"Cos x..argh! Aku tidak bisa."
Jimin takut mengotori bukunya, Jimin tidak ingin ada jejak penghapus di bukunya, Jimin ingin bisa menjawab soal matematika dihadapannya seperti anak-anak lain dikelasnya, yang menjawab soal di papan tulis tanpa ada adegan menghapus hitungan karena salah jawaban.
Jimin ingin secepat itu dalam menerima materi-materi yang diberikan gurunya.
Jimin ingin, dan mungkin hanya jadi rasa ingin.
Nyatanya, ia justru melepas pensil dari jepitan jarinya setelah hampir dua jam bergelut dengan hal yang itu-itu saja.
Selain matematika yang harus dihitung dengan logika, Jimin juga harus memerangi persepsi tentang diri yang terus dilontarkan pikirannya, memenuhi kepalanya hingga menebar keraguan dimana-mana.
Lantas ia memilih bersandar pada kursi belajarnya, memandang langit-langit kamar.
Kali ini tidak abu-abu, tidak juga polos. Melainkan biru muda dengan motif awan-awan juga satu matahari kuning yang cerah, tidak hanya di langit-langit, dinding sekitar juga memiliki corak yang sama.
Pelakunya, adalah Ayah dari Hyun-jun dan, tentu saja bocah itu sendiri.
Anak itu bersikeras membuat kamar Jimin bernuansa layaknya Playground anak-anak karena takut dengan aura kamar Jimin yang gelap.
Anak itu bilang, 'Kalau gelap-gelap, nanti Kak Jimin ditangkap hantu.' dengan wajah yang dibuat seram, 'Jun tidak mau Kak Jimin ditangkap hantu.' tetapi tidak ada seram-seramnya.