Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tangan Jimin terkulai diatas meja, lelah menahan perih hasil dari anti septik yang dioleskan dekat lukanya.
Ini memang tidak parah, tidak sampai berdarah-darah, tetapi Dokter Mi-Seon mengobatinya seperti tangan Jimin akan terancam dibuntungi jika tidak benar-benar diobati.
Pelakunya adalah Ibu dari Taehyung, yang datang barusan. Memohon-mohon seperti orang hilang kewarasan, mencengkram pergelangan tangan Jimin tanpa perasaan—sampai bekas kukunya tertinggal disana dan menciptakan luka yang lumayan perih rasanya.
Awalnya pertemuan mereka aman-aman saja, Dokter Mi-Seon juga sudah mewanti-wanti Ibu Taehyung untuk tidak bertindak gegabah dan tetap ada dalam batas yang sudah Dokter Mi-Seon jabarkan.
Dan Ibu Taehyung menyetujui syarat tersebut.
Itu juga alasan Dokter Mi-Seon memberi ruang agar Ibu Taehyung bisa berbicara langsung dengan Jimin.
Dengan suasana yang kondusif dan tenang, Ibu Taehyung menyampaikan tujuannya. Wanita itu meminta dengan sangat kepada Jimin agar mau menemui Taehyung sebentar saja.
"Jimin-ah, bagaimana kabarmu, nak?"
Tidak ada nada tinggi, tidak ada pendekatan tergesa-gesa, mereka—Ibu Taehyung dan Jimin, sama-sama menjaga jarak aman dengan duduk berjauhan, dan Dokter Mi-Seon sebagai penengah.
Percakapan ini, dibuka dengan sangat hati-hati.
Dengan suara penuh kelembutan, namun jelas menunjukan harapan yang besar. Ibu Taehyung menyampaikan maksud kedatangannya, "Jimin-ah, boleh Ibu minta sedikit bantuan darimu? Sebentar saja, sebentar saja temui Taehyung, nak. Hanya beberapa menit, bicara padanya beberapa menit saja."
Diujung sofa, Jimin duduk sedikit kaku. Telinganya mendengar setiap kata yang Ibu Taehyung ucapkan tanpa terlewat sedikit pun, tetapi ia tidak langsung menjawab. Hanya menatap lurus pada wajah dari wanita yang meminta sesuatu darinya tadi.
Keheningan benar-benar meremat setiap jiwa yang duduk diruang tengah. Tidak ada penolakan yang keluar, persetujuan pun tidak. Jimin masih tetap diam, dengan raut wajah yang datar—sama sekali tidak menggambarkan emosi apapun didalamnya.
Dan Dokter Mi-Seon yang bukan hanya sekedar jadi penengah tetapi juga merangkap jadi pengamat, bisa mengerti dengan sikap yang Jimin ambil dalam menghadapi badai didepan matanya.
Diamnya Jimin, adalah caranya menunda ledakan emosi dalam diri dengan mengolah reaksi emosionalnya—strategi yang ia kembangkan sendiri, secara sadar atau tidak.