Spin Off ( Jimin dan Bunda)

106 17 8
                                        

838 Kata

°•°•°

Bintang kalah terang, rembulan justru ditemani pecah meriahnya kembang api

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bintang kalah terang, rembulan justru ditemani pecah meriahnya kembang api. Suar-suar berpendar membentuk bunga-bunga mekar dengan pijar cetusan cahaya berwarna.

Di peranginan rumahnya, Jimin kecil memangku dagu, merayu-rayu angan membentuk kegembiraan dalam benak. Kenyataan tidak sampai, pada akhirnya khayalan dirajut setebal lamunannya. Bermenit-menit mengacuhkan geringgingan yang menguasai sepanjang tangan hingga jari-jari melupakan rasa.

Pengujung tahun, Jimin tahu ini namanya pengujung tahun. Dimana langit akan lebih ramai dari biasanya, kesunyian tengah malam dilibas oleh kemeriahan penyambutan tahun baru yang akan datang. Wangi sedap dari daging olahan yang dipanggang begitu semerbak. Semakin intens saja rekaan yang dibentuk oleh lamunan Jimin.

"Apa bermain kembang api itu menyenangkan?" Jimin lihat, tetangganya begitu bersemangat membakar sumbu dari bunga api, kemudian berlari menjauh untuk menikmati pemandangan yang akan ditembakkan ke langit.

Jimin juga melihat, meski dirinya tidak bergabung dengan tetangganya, tapi dari beranda rumahnya ia bisa ikut menjadi penonton dari letusan berwarna-warni yang meriah.

Tetapi apa rasanya, Jimin tidak merasakan apapun. Ia terus berpikir, apa kiranya yang membuat orang-orang yang membakar kembang api itu tertawa untuk percikan cahaya yang menghiasi langit diatas mereka.

Jimin sudah coba membayangkan jika, ia dan Ibunya melakukan hal yang sama. Jimin mencoba memunculkan euphoria yang sama, namun ia tidak mendapati apapun dalam perasaannya selain pertanyaan, apa dan kenapa.

Lalu ponsel diatas meja berbunyi. Jimin bergegas berlari masuk, membuka satu pesan yang masuk, "Kuncinya.." Dengan perlahan Jimin berusaha mengingat apa yang sudah diajarkan bundanya tentang cara membaca pesan yang masuk kedalam ponsel, "Nah, sudah kebuka."

Disana Bundanya bilang, "Malam ini bunda lembur, Jimin-ie langsung tidur saja ya, jangan menunggu Bunda. Masih lumayan lama soalnya."

Ah, begitu, Jimin paham. Setelah mematikan ponselnya, Jimin bergegas mengunci pintu kearah beranda rumah, kemudian menarik tirai hingga menutupi jendela, lalu yang terakhir, memeriksa pintu utama rumahnya, memastikan jalur masuk itu terkunci.

Hari ini, dimalam yang katanya pengujung tahun, Jimin harus tidur sendiri. Hari ini, dimalam yang katanya esok pagi adalah tahun baru, tidak ada perubahan yang terjadi. Jimin masih tidur sendiri, bahkan di hari ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu.

"Selamat malam, pengunjung tahun. Jangan mimpi buruk ya." Menarik selimut, Jimin merapatkan punggungnya pada sandaran sofa, meringkuk disana seperti udang BBQ. Jimin merasa aman saat tidur dalam posisi begitu, namanya juga self defense.

Sebelumnya hanya ada suara riuh orang di luar, lalu disusul suara suar kembang api, tetapi Jimin tidak terganggu dalam pejamnya yang masih berusaha lelap. Namun, saat suara dari pin pintu rumahnya terdengar, kedua netra Jimin langsung terbuka. Bangun dari acara berbaringnya, turun dari sofa untuk bersembunyi disampingnya.

Apa mungkin pencuri? Tetapi di rumah Jimin tidak ada benda yang bisa dicuri, semuanya adalah barang dari tangan kedua, sisa pemakaian. Apa mungkin penculik? Kata Bunda, kasus penculikan anak dari sindikat peradangan organ sedang marak terjadi. Tapinya lagi, apa iya orang orang jahat itu tahu pin pintu rumah Jimin.

Pasalnya, tidak ada suara dari kesalahan mendial kombinasi pin, yang ada justru suara kunci pintu yang terbuka. Kemudian lampu di dekat pintu menyala, menandakan ada seseorang yang masuk. Terdengar pula suara dari sepatu yang dilepas, semakin membuat Jimin menekuk, menciut disamping sofa.

Ketakutan membuat Jimin terpejam, namun saat hanya suara dari keramaian diluar yang terdengar, Perlahan kelopak matanya terbuka, baru sedikit kemudian langsung membelalak, ketika bertanya mendapati sepasang kaki berdiri dihadapannya.

Susah payah membasahi kerongkongan, ia bersiap untuk berteriak, namun, "Jimin-ie." Kelembutan suara yang begitu familiar membuat Jimin mendongak, menemukan wajah Bundanya yang berhias senyuman hangat.

"Bunda."

"Sedang apa disini, huh? Kenapa duduk dilantai? Kan' ada sofa, duduk di sofa." Mengulurkan tangan, yang langsung disambut Jimin dengan girang.

"Katanya Bunda lembur. Jimin kira tadi itu bukan Bunda." Maju sudah bibir Jimin, kesal karena sudah dibuat ketakutan oleh Bundanya.

"Tidak jadi lemburnya. Bunda mau lembur dengan Jimin-ie saja."

"Tapi'kan Jimin tidak kerja Bunda."

"Sebentar lagi, Jimin-ie akan punya pekerjaan." Mengernyit kedua alis Jimin. Membuat kedua jari Bunda bergerak untuk meluruskan kerutan diantara kedua alis putranya.

Ekspresi bertanya-tanya Jimin sudah bisa ditebak dengan mudah oleh Bunda.

"Bunda punya ini." Mengeluarkan lembaran berwarna hitam dan beberapa buah tusuk gigi, "Tada!"

"Apa itu, Bunda?"

"Ini kembang api." Kata Bunda begitu.

"Kembang api?" Tapi Jimin kelewat kebingungan, pasalnya kembang api milik tetangga tidak begitu bentuknya, bukan selembaran warna hitam.

"Sini, sini, biar Bunda tunjukkan." Mendekati meja didepan sofa, Bunda menunjukkan cara kerja dari lembaran hitam yang ia bawa, "Kira bisa buat kembang api warna warni dari sini." Menggores permukaan kertas hitam dengan tusuk gigi, membentuk suar dari bunga api.

Jimin terperangah, sebab setiap goresan yang Bunda buat, mengeluarkan warna. Semakin banyak garus yang Bunda tarik, semakin meriah selembar kertas hitam itu dengan warna-warni bagai bunga api sungguhan.

"Cantik'kan?" Jimin mengangguk, begitu antusias saat tiba gilirannya untuk membuat goresan, memenuhi permukaan hitam itu dengan banyaknya kembang api buatan tangan. Dengan varian ukuran, dari kecil sampai besar. Jimin membuatnya dengan penuh semangat.

"Selamat tahun baru Jimin-ie. Maaf tahun ini, Ayah tidak bisa datang lagi." Tersenyum dengan makna yang dalam, mata Bunda terlihat penuh siratan pesan. Tangannya yang sedikit gemetar menggapai puncak kepala putranya, mengusap penuh kelembutan disana,

"Semoga kebahagiaan selalu ada bersama Jiminnya Bunda."

Minki ada acara nanti malam, jadi takut ga bisa update

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Minki ada acara nanti malam, jadi takut ga bisa update. Makanya Minki keluarin sekarang aja chapter barunya.

Terimakasih sudah membaca 💛

Written by Minminki

Tanpa JedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang