17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Cahaya matahari pagi menembus jendela, menerangi ruangan yang sederhana namun hangat. Pitaloka berdiri dengan tas kecil di tangan, mengenakan pakaian nyaman untuk perjalanannya. Di hadapannya, Bu Yani dan Rena duduk di sofa, menatapnya dengan raut sedih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Pitaloka, kamu hati-hati di sana, ya. Kalau ada apa-apa, kabari kami." ucap Bu Yani terisak.
Pitaloka tersenyum lembut, meski wajahnya menyiratkan rasa berat. Ia menggenggam tangan Bu Yani dengan erat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Iya, Bu. Terima kasih untuk semuanya. Doakan Pita dan Farah selamat sampai tujuan kami di Bengkulu." ucap Pitaloka tersenyum.
Rena yang duduk di samping Bu Yani ikut terdiam, mencoba menyembunyikan emosinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kak, jaga diri baik-baik. Kita semua disini selalu mendoakan Kak Pita dan Kak Farah." ucap Rena dengan suara serak.
Pitaloka mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu ini keputusan yang sulit, tapi demi putrinya, ia harus pergi.
" Rena, tolong jaga Ibu selama kakak tidak ada di sini. Kakak nggak tahu kapan bisa kembali, tapi kakak percaya kalian akan baik-baik saja." ucap Pitaloka tersenyum.