17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Langit mulai meredup, cahaya matahari perlahan menghilang di balik rimbunan pepohonan. Datuk Lebai Karat, Gumara, dan Pitaloka berjalan perlahan di tengah hutan yang semakin gelap. Langkah mereka penuh kewaspadaan, sementara angin sore berhembus pelan, menimbulkan suara gemerisik dari dedaunan kering yang berserakan di tanah.
Pitaloka terus mencoba menggunakan intuisinya, tetapi tetap saja, ia tidak bisa merasakan keberadaan putrinya. Hal ini membuatnya semakin gelisah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaan Sekar? Seolah-olah dia... menghilang dari dunia ini." ucap Pitaloka menahan napas, berbicara dengan nada putus asa.
Gumara mengepalkan tangannya, matanya tajam menatap ke sekitar. Ia tahu bahwa putrinya memiliki darah inyek, seharusnya tidak mungkin keberadaannya tidak bisa terdeteksi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Ini tidak masuk akal. Jika Key ada di hutan ini, kita pasti bisa merasakannya. Tapi... seakan-akan dia berada di dimensi lain." ucap Gumara dengan suara berat dan khawatir.
Datuk Lebai Karat berhenti melangkah, ia menutup matanya sejenak, mencoba merasakan sesuatu. Namun, sama seperti Pitaloka dan Gumara, ia pun tidak merasakan apapun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Jika Sekar benar-benar berada di dunia lain, maka ini adalah perbuatan siluman yang telah menjebaknya." ucap Datuk Lebai Karat menghela napas panjang.