17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
INT. MOBIL – JALANAN KOTA MENUJU DESA KUMAYAN – PAGI
Suasana pagi begitu cerah, sinar matahari masuk melalui kaca jendela mobil. Mobil keluarga yang ditumpangi oleh Pitaloka, Gumara, dan Key melaju perlahan meninggalkan RS Harapan. Di dalam mobil, suasana terasa tenang, namun penuh dengan kehangatan. Key duduk bersandar dengan bantal di punggungnya, masih terlihat lemas namun jauh lebih baik dari sebelumnya. Pitaloka duduk di sampingnya, terus menggenggam tangan putrinya dengan lembut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Sekar... Ibu minta kamu lebih hati-hati lagi ya ke depannya. Ibu tidak akan bisa tenang kalau kamu kenapa-kenapa lagi." ucap Pitaloka dengan suara lembut, namun tegas.
" Iya, Ibu... Key janji akan lebih waspada." ucap Key mengangguk pelan, menatap ibunya penuh pengertian.
" Apalagi kalau sampai Ibu Wiwit mencoba mendekat lagi... Ibu tidak mau kamu terluka lagi, baik secara fisik ataupun perasaan. Kamu harus bisa jaga diri, ya." ucap Pitaloka menatap putrinya dalam-dalam.
" Kita tidak akan biarkan hal buruk terjadi lagi. Tapi tetap, kamu harus selalu menjaga diri kamu sendiri, Key. Sekarang kamu tahu siapa yang benar-benar tulus sama kamu." ucap Gumara menyusul dari kursi kemudi, dengan nada tenang namun penuh perlindungan.
" Iya, Ayah. Key ngerti... Sekarang Key nggak akan gampang percaya sama siapa pun. Dan Key janji bakal jaga diri, demi Ibu dan Ayah juga." ucap Key tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca.
Pitaloka menatap wajah Key yang sedang bersandar.
" Sekar... Ibu tahu, apa yang dilakukan Ibu kamu itu... tidak bisa dimaafkan begitu saja. Tapi bagaimanapun, selama 17 tahun ini, dia yang merawat kamu, mendampingi kamu selama ini." ucap Pitaloka dengan lembut, ia mulai berbicara kembali, nadanya lebih bijak dan penuh kasih.
Key menoleh pelan, menatap wajah ibunya yang penuh pengertian.
" Meski hatimu terluka, kamu tetap harus belajar menghormatinya. Bukan karena dia benar, tapi karena kamu tahu bagaimana menjadi anak yang baik... yang tetap punya hati." ucap Pitaloka melanjutkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Iya, Bu... Key ngerti. Key memang nggak bisa langsung maafin, tapi Key juga nggak akan melupakan kebaikan yang pernah Ibu Wiwit lakuin." ucap Key suara pelan namun mantap.