128

726 40 12
                                        

INT. KAMAR PITALOKA DAN GUMARA – RUMAH DATUK ABU – MALAM

Malam telah larut. Dari celah jendela kamar, suara serangga malam dan desir angin lembut terdengar samar. Di dalam kamar yang remang, dua sosok suami istri duduk bersandar di ranjang kayu yang sejak beberapa hari terakhir menjadi tempat peristirahatan mereka. Pitaloka terlihat menyisir rambutnya pelan, sementara Gumara duduk bersedekap, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, namun pikirannya mengembara jauh.

 Pitaloka terlihat menyisir rambutnya pelan, sementara Gumara duduk bersedekap, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, namun pikirannya mengembara jauh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Sayang, sudah saatnya kita pindah ke rumah dinasku. Rumah itu sudah lama kosong semenjak aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta 17 tahun yang lalu, dan aku rasa... waktunya kita mulai menempati rumah itu kembali." ucap Gumara suara pelan namun berat.

Pitaloka menghentikan gerakan menyisirnya. Ia menoleh ke arah suaminya, sedikit terkejut, namun tidak sepenuhnya heran.

 Ia menoleh ke arah suaminya, sedikit terkejut, namun tidak sepenuhnya heran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Kau masih memikirkan soal Ayah, ya?" ucap Pitaloka menghela napas.

" Aku merasa tidak enak, Pita. Sejak Key sering tidur bersama dengan Ibu di kamarnya... Ayahmu, Datuk Abu, harus tidur di pondok kebun. Sekuat apapun beliau tidak menunjukkan rasa keberatan, aku tahu... itu bukan hal yang pantas untuk seorang orang tua." ucap Gumara mengangguk perlahan. Pandangannya turun, menatap lantai kayu tua kamar itu.

Pitaloka menatap suaminya dengan penuh pengertian. Ia tahu, Gumara bukan hanya menantu yang baik, tetapi juga pria yang sangat menjunjung tinggi adab dan rasa hormat kepada orang tua. Rumah Datuk Abu memang tidak begitu besar, dan semenjak mereka menikah, Key akhirnya tidur dengan neneknya, Bu Puspa, istri Datuk Abu.

" Aku paham maksudmu, Pa Mara. Rumah dinas itu memang sudah siap dihuni, dan suasananya juga jauh lebih tenang daripada di sini." ucap Pitaloka dengan nada lembut.

" Aku hanya ingin kita tidak terus membebani mereka. Ayah dan Ibu sudah terlalu banyak berkorban untuk kita. Sudah waktunya aku membawa kalian ke tempat yang lebih tepat." ucap Gumara mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kepala ranjang.

" Baiklah, tapi biarkan aku bicara dulu dengan Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin mereka merasa kita pergi karena tidak betah." ucap Pitaloka meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang