17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Pitaloka dan Gumara berdiri di tengah hutan yang diselimuti kabut pekat. Tubuh mereka dipenuhi luka, napas terengah-engah. Mereka baru saja bertarung habis-habisan melawan kawanan siluman yang tak henti-hentinya menyerang.
Gumara berusaha tetap tegak, tapi tubuhnya mulai kehilangan tenaga. Terlalu banyak kekuatan yang telah ia keluarkan untuk melindungi Pitaloka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kau sudah terlalu banyak mengorbankan dirimu, Pa Mara... Kau harus berhenti memaksakan diri!" ucap Pitaloka khawatir, menatap Gumara.
Gumara menggeleng lemah, menahan rasa sakit di dadanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku tidak bisa diam saja... Aku harus melindungimu, Pitaloka." ucap Gumara tersenyum tipis, meski wajahnya penuh luka.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa pelan dari balik kabut. Suara itu menggema, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
" Kalian sudah mulai kelelahan, ya? Tak kusangka, inyek harimau putih sehebat kalian pun bisa sampai ke titik ini..." ucap Siluman dengan suara mengerikan.
Pitaloka dan Gumara langsung waspada. Dari balik kabut, sosok siluman bertubuh tinggi dengan mata merah menyala perlahan muncul.
" Aku bisa mencium kelemahan kalian... Kalian tidak akan bisa keluar dari dunia ini hidup-hidup!" ucap Siluman misterius tersenyum licik.
Gumara mengepalkan tangannya, bersiap menghadapi ancaman baru. Tapi tubuhnya melemah, kakinya hampir tak sanggup berdiri. Pitaloka menyadari hal itu. Dia tahu bahwa mereka tidak bisa terus bertarung dalam kondisi seperti ini.
" Kita harus mencari cara untuk keluar... Kalau tidak, kita berdua akan mati di sini!" ucap Pitaloka berbisik pada Gumara.
Gumara menatap Pitaloka sejenak, lalu mengangguk. Siluman misterius itu perlahan berjalan mendekat, siap melancarkan serangannya. Pitaloka merasakan tubuhnya semakin berat, napasnya tersengal. Tapi melihat Gumara yang lebih lemah darinya, ia tak bisa menyerah begitu saja. Dengan sekuat tenaga, ia merangkul tubuh Gumara yang hampir ambruk.