EXT. ALAM LELUHUR - MALAM
Pitaloka terbangun dengan napas memburu. Sekitarnya diselimuti kabut pekat, udara dingin menusuk kulitnya. Ia memandangi tempat asing itu dengan hati-hati, sebuah dimensi lain yang dipenuhi aura mistis.
" Di mana aku...?" ucap Pitaloka bergumam, bingung.
Ia mencoba melangkah, namun sebelum sempat mencari tahu lebih jauh, suara langkah berat menggema. Dari kegelapan, tiga sosok pria berjubah hitam muncul. Wajah mereka tertutup, hanya mata merah menyala yang terlihat dari balik kain gelap yang mereka kenakan. Pitaloka mundur selangkah, bersiap. Aura mereka begitu kuat, jelas bukan makhluk biasa. Tanpa aba-aba, salah satu dari mereka melesat dengan kecepatan luar biasa, menyerangnya dengan cakaran tajam yang hampir mengenai wajahnya. Dengan refleks cepat, Pitaloka menangkis serangan itu, lalu berbalik dan melayangkan tendangan ke arah sosok berjubah hitam lainnya. Namun, serangannya tidak semudah itu mengenai target, sosok itu menghilang seperti bayangan dan muncul kembali di belakangnya.
" Mereka bukanlah manusia biasa..." ucap Pitaloka mengerutkan dahi, bergumam.
Salah satu dari mereka mengangkat tangannya, menciptakan pusaran angin hitam yang berputar cepat, mengarah langsung ke Pitaloka. Tanpa ragu, Pitaloka segera melompat ke udara, kedua tangannya mengeluarkan cahaya keemasan. Dengan gerakan lincah, ia mengeluarkan energi itu ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang membuat ketiga sosok tersebut terpental ke belakang. Mereka tidak menyerah. Pitaloka mengatur napasnya, matanya bergerak cepat memperhitungkan serangan berikutnya. Ketiga sosok pria berjubah hitam itu bergerak seperti bayangan, mengitari dirinya dengan kecepatan luar biasa. Tiba-tiba, mereka menyerang bersamaan, dua dari sisi kanan dan kiri, satu lagi melompat dari atas, menghunuskan cakarnya yang tajam. Pitaloka menghindar ke belakang, tetapi serangan mereka terlalu cepat.
BRAKK!
Pitaloka terlempar ke tanah, tubuhnya menghantam bebatuan keras. Ia merasakan sakit menusuk di lengannya, tapi ia tidak boleh menyerah. Dengan cepat, ia berguling ke samping menghindari cakaran pria berjubah hitam yang hampir mengenai wajahnya.
" Alam ini memberi mereka kekuatan lebih... Mereka bukan lawan yang mudah!" ucap Pitaloka menggeram, dalam hati.
Dengan sisa tenaga, Pitaloka melompat ke udara, berputar, dan menendang salah satu dari mereka tepat di dada. Sosok itu terpental ke belakang, tetapi dua lainnya kembali menyerang tanpa memberi jeda. Pitaloka mengerahkan kekuatannya, matanya mulai berpendar keemasan. Aura harimau putih menyelimuti tubuhnya, cakar tajam muncul di jemarinya.
" Kalian bukan lawan yang mudah... tapi aku juga tidak akan mundur!" ucap Pitaloka mendesis tajam.
Salah satu pria berjubah hitam melepaskan serangan bayangan, energi hitam mengalir cepat ke arahnya. Pitaloka melompat ke depan, menerobos bayangan itu dengan cakar emasnya, menghancurkan serangan lawan. Pertarungan terus berlanjut dengan intensitas tinggi. Pitaloka mulai kewalahan, tapi ia tahu ia tidak bisa kalah di tempat ini. Dengan satu tarikan napas dalam, ia merapal mantra dalam hati, mengumpulkan seluruh energinya. Perlahan, cahaya putih bersinar dari tubuhnya. Pitaloka mengaktifkan kekuatan inyeknya, matanya bersinar tajam, tubuhnya memancarkan aura harimau putih. Dengan gerakan cepat, ia menangkap pergelangan tangan salah satu dari mereka, lalu melemparkannya ke sosok yang lain hingga keduanya terhempas keras ke tanah. Tinggal satu sosok yang tersisa. Pria berjubah hitam itu tampak berbeda dari yang lain. Ia mengangkat tangannya, menciptakan bayangan besar di belakangnya, lalu berbicara dengan suara dalam dan bergaung.
" Kau tidak seharusnya ada di sini, Ratu Harimau Putih...!" ucap Pria berjubah hitam dingin dan penuh ancaman.
Pitaloka mengepalkan tangan, siap melawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Fanfiction17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
