EXT. TAMAN - RS HARAPAN - SORE
Wiwit menghentikan pembicaraannya dengan pria misterius itu. Matanya menyipit, instingnya mengatakan ada seseorang yang sedang menguping. Ia segera melayangkan pandangannya ke sekitar, menelisik setiap sudut taman. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan, menciptakan bayangan samar yang membuatnya semakin waspada.
" Tunggu... Aku merasa ada yang mengawasi kita." ucap Wiwit berbisik tegang, pada pria misterius.
Pria misterius itu ikut menoleh ke kanan dan kiri, namun tak melihat siapa pun. Namun, Wiwit tidak bisa mengabaikan perasaannya. Ia melangkah ke depan, matanya menelisik tajam ke semak-semak dan pepohonan di sekitar taman rumah sakit.
" Siapa di sana?! Keluar kamu!!" ucap Wiwit menggertakkan gigi, suaranya menajam.
Hening. Tak ada suara selain desir angin yang berhembus pelan. Namun, tiba-tiba dari balik pohon besar, Farah melangkah keluar dengan tenang. Wajahnya penuh keberanian, namun matanya menyiratkan kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.
" Kamu?! Farah?!" ucap Wiwit terbelalak kaget, wajahnya berubah pucat.
" Ya, aku. Dan aku dengar semuanya." ucap Farah menatap tajam, menyilangkan tangan di dada.
Pria misterius itu refleks mundur selangkah lalu beranjak pergi. Sementara itu, Wiwit menggertakkan giginya, rahangnya menegang. Ia tahu ini bukan pertanda baik.
" Farah... Kamu pasti salah paham. Aku hanya sedang bicara dengan..." ucap Wiwit berusaha tetap tenang, tersenyum kecil penuh kepalsuan.
" Berhenti berbohong, Wiwit! Aku dengar semuanya! Kamu menyewa pria itu untuk membunuh Pitaloka, tapi malah Sekar yang menjadi korban! Apa kamu sadar betapa jahatnya yang telah kamu lakukan?!" ucap Farah memotong dengan tajam, suaranya penuh amarah.
Wiwit terdiam sesaat, namun lalu ia mengangkat dagunya, mencoba menguasai keadaan meskipun matanya mulai gelisah.
" Farah, dengarkan aku... Kamu tidak mengerti situasinya. Ini bukan urusan kamu." ucap Wiwit menghela napas, berpura-pura tersenyum sinis.
" Bukan urusanku kamu bilang?! Kamu mencoba membunuh seseorang, dan anak tak berdosa malah menjadi korban! Dan kamu pikir aku akan diam saja?!" ucap Farah melangkah maju, menatap Wiwit penuh kebencian.
" Farah... Jangan ikut campur. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi." ucap Wiwit menatap Farah dengan dingin, suaranya rendah namun penuh ancaman.
" Oh, aku tahu betul. Aku tahu betapa berbahayanya kamu. Dan aku tidak akan diam melihat kamu lolos begitu saja." ucap Farah mendekat, matanya menyala penuh amarah.
Wiwit dan Farah saling menatap tajam, seakan bersiap untuk pertempuran tanpa kata. Wiwit masih berdiri kaku, matanya melebar penuh kegelisahan. Sementara itu, Farah berdiri tegak di hadapan Wiwit, ekspresinya penuh tekad dan kemarahan.
" Aku akan mengadukan semuanya. Semua orang harus tahu bahwa kamu lah dalang dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Sekar!" ucap Farah dengan suara tajam, menusuk ke hati Wiwit.
Wiwit terperanjat, dadanya naik turun menahan kepanikan. Ia mencoba mencari alasan, mencoba menyusun kata-kata untuk membela diri, tetapi tak ada satu pun yang keluar dari mulutnya. Wajahnya pucat, keringat mulai mengalir di pelipisnya.
" Farah... Kamu pasti salah dengar. Kamu tidak punya bukti apa pun." ucap Wiwit berusaha tertawa kecil, namun terdengar gugup.
" Kamu pikir aku butuh bukti lain setelah aku melihat dan mendengar semuanya dengan mata dan telingaku sendiri? Aku dengar bagaimana kamu mengomeli pria itu karena gagal membunuh Pitaloka, dan malah Sekar yang menjadi korbannya." ucap Farah menyipitkan mata, melangkah lebih dekat, suaranya tajam seperti pisau.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Fanfiction17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
