17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Pitaloka membalas pelukan itu, merasa sedikit lebih kuat. Meski hatinya masih penuh kerinduan, kata-kata Farah memberinya harapan. Farah melirik arlojinya, menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu cepat. Cahaya matahari siang mulai menyusup masuk melalui jendela kamar hostel, membuatnya tersadar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Pitaloka, sepertinya aku harus segera melanjutkan perjalananku ke Desa Kumayan. Aku tidak ingin terlalu sore sampai disana." ucap tersenyum tipis ke arah Pitaloka
Pitaloka mengangguk penuh pengertian.
" Tentu, Farah. Aku mengerti. Aku beruntung bisa bersamamu sejauh ini." ucap Pitaloka dengan nada hangat.
Farah mengangkat tas kecilnya yang sudah disiapkan, sementara Pitaloka menemaninya berjalan menuju pintu keluar hostel, membantu membawakan koper milik Farah. Langkah mereka lambat, seolah ingin memanfaatkan waktu kebersamaan ini hingga detik terakhir.
" Aku yang seharusnya berterima kasih. Selama perjalanan ini, aku merasa dekat lagi dengan kamu. Aku senang bisa menemani kamu mencari tempat tinggal selama kamu ada disini." ucap Farah tersenyum sambil menatap Pitaloka.
Pitaloka berhenti sejenak, meraih tangan Farah dengan penuh rasa terima kasih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Farah, terima kasih untuk semuanya. Untuk waktu, perhatian, dan dukungan kamu. Aku merasa tidak sendirian di tempat ini karena kamu selalu ada di sisiku." ucap Pitaloka dengan suara lirih namun penuh arti.
" Kita itu sahabat, Pitaloka. Akan selalu begitu. Jangan ragu untuk menghubungiku kapan saja kamu butuh aku." ucap Farah tersenyum hangat, menepuk lembut punggung tangan Pitaloka.
Mereka melangkah keluar hostel. Di halaman depan, Farah berhenti, menatap Pitaloka sejenak sebelum memeluknya erat.
" Semoga kamu segera bertemu dengan Sekar dan bisa melindunginya seperti yang kamu inginkan." ucap Farah tersenyum.
Farah melepas pelukan itu dan mulai melangkah pergi, melambaikan tangan ke arah Pitaloka sebelum akhirnya menaiki ojek yang telah menunggunya. Pitaloka berdiri di sana, menatap kepergian sahabatnya dengan senyuman, meski dalam hatinya ada kerinduan dan rasa terima kasih yang mendalam.