17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Pitaloka masih tertidur lelap di sofa ruang perawatan, tubuhnya sedikit meringkuk, tampak kelelahan setelah semalaman menjaga Key. Sementara itu, Gumara sudah lebih dulu bangun dan kini duduk di sofa sebelahnya. Gumara yang baru saja selesai membasuh wajahnya, beranjak ke dekat jendela, mengamati suasana pagi yang mulai terang. Namun, suara lirih yang memanggilnya membuatnya segera menoleh.
" Ayah..." ucap Key lemah, setengah sadar.
Mendengar panggilan itu, Gumara langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mendekati ranjang Key. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran saat melihat putrinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Key? Kamu sudah bangun, Nak? Apa ada yang sakit?" ucap Gumara cemas, suara lembut.
Gumara segera menggenggam tangan Key dengan lembut, mencoba menenangkan putrinya yang masih terlihat lemah. Key menggeleng pelan, matanya yang sayu berusaha menatap wajah ayahnya dengan lebih jelas.
" Nggak, Ayah... Key cuma haus." ucap Key suara pelan, sedikit serak.
Gumara menghela napas lega, lalu buru-buru menuangkan air ke dalam gelas dan membantu Key untuk minum dengan hati-hati. Key meminum sedikit demi sedikit sebelum akhirnya bersandar kembali ke bantal.
" Kamu harus banyak istirahat, Nak. Kondisi kamu sudah lebih baik, tapi kamu masih butuh pemulihan." ucap Gumara lembut, tersenyum kecil.
Key tersenyum tipis, lalu matanya melirik ke arah sofa tempat ibunya tertidur lelap. Ia sedikit mengernyit heran.
" Ibu belum bangun ya, Ayah?" ucap Key lemah, penasaran.
Gumara menoleh ke arah Pitaloka yang masih tertidur. Napasnya teratur, menunjukkan betapa lelahnya ia setelah menjaga Key semalaman. Gumara tersenyum kecil, lalu kembali menatap Key.
" Ibumu pasti sangat lelah, semalaman dia tidak mau jauh dari kamu. Ayah sudah menyuruhnya istirahat tadi malam, tapi dia tetap bersikeras untuk berjaga takut kamu kenapa-kenapa." ucap Gumara mengusap rambut Key, lembut.
Key tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tahu betapa besar cinta yang ibunya berikan untuknya.
" Ibu selalu seperti itu... selalu khawatir kalau Key kenapa-kenapa." ucap Key lirih, tersenyum kecil.
Gumara mengangguk, lalu menggenggam tangan Key lebih erat.
" Itu karena kamu adalah segalanya untuknya, Nak." ucap Gumara lembut, penuh kasih sayang.
Key tersenyum haru, sementara Gumara tetap berada di sampingnya, menggenggam tangannya dengan lembut. Keheningan yang nyaman menyelimuti ruangan, hanya suara alat medis yang terdengar pelan. Tiba-tiba, Key menarik tangan ayahnya dengan lemah, membuat Gumara menatapnya dengan heran.
" Ayah... lebih baik Ayah bangunkan Ibu." ucap Key lemah, tetapi tegas.