INT. KAMAR 201 - HOSTEL KAYU LIMA - MALAM
Pitaloka duduk di tepi ranjang, di hadapannya, sebuah jendela terbuka, memamerkan pemandangan malam yang indah. Udara segar dari luar masuk, membawa aroma khas pepohonan yang mengelilingi desa Kayu Lima. Ia menopang dagu dengan tangan, tatapannya melekat pada langit malam yang bertabur bintang. Bulan sabit bersinar lembut, memancarkan cahaya temaram yang menambah keindahan suasana. Di kejauhan, suara jangkrik dan gemerisik dedaunan menjadi irama yang menemani malam sunyi itu. Di balik keindahan yang ia lihat, hati Pitaloka terasa berat. Wajahnya sedikit murung, dan matanya berbinar, bukan karena kebahagiaan, melainkan kerinduan yang mendalam. Ia memikirkan putrinya, Sekar Kemuning, yang kini sedang menjalani tugas KKN di Desa Hutan Mati.
" Sekar..." gumam Pitaloka lirih, suara itu nyaris tenggelam dalam keheningan malam.
Pitaloka memejamkan mata sejenak, mencoba membayangkan Sekar di sana, menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia tahu putrinya adalah gadis yang kuat, tetapi hati seorang ibu selalu dipenuhi kekhawatiran, apalagi mengetahui bahwa Sekar berada di tempat yang terkenal dengan bahaya.
" Semoga kamu selalu dilindungi, Nak. Dimanapun kamu berada, Ibu selalu mendoakan kamu." ucap Pitaloka menarik napas dalam-dalam, membuka matanya kembali, lalu menatap langit malam seolah mencari jawaban dari alam semesta.
Tetes air mata jatuh perlahan di pipi Pitaloka, tapi ia segera menghapusnya. Ia tahu, sebagai seorang ibu, ia harus tetap kuat, seperti yang selalu ia ajarkan kepada putrinya. Suasana kamar itu tetap hening, hanya suara alam yang menjadi saksi bisu kerinduan seorang ibu yang mencintai putrinya tanpa batas. Malam di Desa Kayu Lima terus berjalan, membawa harapan Pitaloka bahwa esok akan lebih cerah, dan suatu saat ia akan bertemu lagi dengan Sekar Kemuning, memeluknya erat, dan melihat senyumnya yang selalu dirindukan. Ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunan Pitaloka. Ia menoleh, lalu bangkit dari tempat tidurnya.
" Siapa?" tanya Pitaloka dengan langkah ringan, ia berjalan menuju pintu kamar, tangannya meraih gagang pintu sambil bertanya.
" Ini aku, Farah," ucap Farah terdengar suaranya yang akrab dari luar.
Pitaloka tersenyum kecil mendengar suara sahabatnya. Ia membuka pintu, dan di hadapannya berdiri Farah dengan senyum hangat, membawa tas kecil berisi cemilan di tangannya.
" Farah, kamu?" ucap Pitaloka, suaranya terdengar terkejut tapi penuh kehangatan.
Farah melangkah masuk tanpa ragu.
" Aku pikir kamu pasti sedang sendiri di kamar, jadi aku putuskan untuk datang menemanimu. Aku juga bawa cemilan, supaya kita bisa mengobrol sambil makan." ucap Farah sambil mengangkat tas kecilnya.
" Kamu memang selalu tahu bagaimana menghiburku. Terima kasih, Farah." ucap Pitaloka tertawa kecil, merasa kehadiran Farah seperti obat bagi hatinya yang tengah dirundung kerinduan.
Farah meletakkan tas cemilannya di meja kecil di samping tempat tidur. Ia lalu duduk di kursi yang ada di sudut ruangan.
" Aku tahu kamu pasti sedang memikirkan Sekar, kan?" tanya Farah sambil membuka bungkus cemilan.
" Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia di Desa Hutan Mati sekarang. Tempat itu... terlalu banyak cerita buruk yang membuatku khawatir, Farah." ucap Pitaloka mengangguk pelan, duduk kembali di tepi ranjang.
" Aku paham, Pita. Tapi Sekar itu anak yang cerdas dan kuat. Dia pasti tahu bagaimana menjaga dirinya. Lagipula, tugas KKN ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Kita hanya bisa percaya padanya dan berdoa untuk keselamatannya." ucap Farah menatap Pitaloka dengan penuh pengertian. Ia menyodorkan sekotak kue kering ke arah sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Фанфикшн17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
