17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Tak lama setelah Wiwit meninggalkan ruangan, suasana mulai tenang kembali. Gumara duduk di tepi ranjang Key, sementara Pitaloka menata bantal di belakang tubuh putrinya. Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Silakan masuk." ucap Pitaloka menoleh.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Dokter Giska yang datang dengan clipboard di tangan dan senyum hangat di wajahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Selamat pagi, Dokter." ucap Gumara berdiri dan menyambut dengan ramah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Selamat pagi, Pak Gumara, Pitaloka. Saya datang untuk visite dan memeriksa kondisi Sekar, bagaimana tidurnya tadi malam?" ucap dr. Giska membalas senyuman mereka dengan ramah.
" Alhamdulillah, tadi malam Sekar cukup tenang. Mungkin hanya sempat gelisah sebentar." ucap Pitaloka tersenyum tipis, meski masih menyimpan lelah di wajahnya.
Giska mengangguk, lalu berjalan ke sisi ranjang Key. Ia memeriksa kondisi fisik Key dengan cekatan namun lembut. Key menyambutnya dengan senyum lemah.
" Hmm... dari tanda-tanda vital dan reaksi tubuhnya, Sekar sudah menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Proses pemulihannya berjalan dengan lancar." ucap dr. Giska melihat hasil tekanan darah dan pernapasan.