99

949 70 15
                                        

EXT. JALANAN KAYU LIMA - PAGI

Suasana pagi di kawasan Kayu Lima terlihat lengang. Hanya beberapa pejalan kaki yang melintas dan sesekali kendaraan bermotor melaju perlahan di sepanjang jalan. Udara pagi yang sejuk seolah menutupi gelapnya niat yang tengah direncanakan seseorang di sudut kawasan itu.

Di bawah sebuah pohon besar yang berdiri di tepi jalan, Wiwit tampak berdiri gelisah. Sesekali pandangannya menyapu ke sekeliling, memastikan tidak ada satu pun mata yang memperhatikan keberadaannya di sana. Wajahnya terlihat tegang, namun sorot matanya menyimpan amarah dan dendam yang tak pernah padam.

Tak berselang lama, seorang pria berbadan tegap dengan wajah tertutup sebagian oleh topi lusuh mendekat ke arah Wiwit. Langkahnya tenang, namun jelas menyimpan maksud tertentu. Pria itu berdiri tepat di hadapan Wiwit, tanpa senyum, tanpa sapaan basa-basi.

 " Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?" ucap Wiwit dengan suara pelan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, bukan?" ucap Wiwit dengan suara pelan.

Pria itu mengangguk pelan. Tatapannya tajam, menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Sosoknya jelas bukan sekadar kaki tangan biasa, melainkan seseorang yang telah lama berkecimpung dalam dunia kotor yang penuh tipu daya dan kekerasan.

" Pantau semua gerak-geriknya. Ikuti ke mana pun dia pergi, siapa pun yang ia temui, bahkan sampai ke sudut-sudut hutan sekali pun. Jangan biarkan dia merasa aman... Pitaloka harus lenyap, secepatnya." lanjut Wiwit.

Wiwit menatap tajam pria bertubuh kekar di hadapannya. Ia merogoh tas kecil yang ia bawa, mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah foto terselip di antara jemarinya, lalu ia serahkan kepada pria tersebut.

" Ini dia orangnya. Pitaloka. Pastikan kamu tidak salah target. Saya tidak ingin ada kesalahan dalam rencana ini." ucap Wiwit dingin.

Pria itu menerima foto itu dengan ekspresi serius. Ia menatap lekat wajah wanita yang ada dalam gambar, memastikan dirinya benar-benar mengenali sosok yang harus ia lenyapkan.

" Saya mengerti. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan mengawasinya, mencari waktu yang tepat untuk bertindak." ucap Pria mengangguk. 

" Jangan hanya mengawasi, pastikan tugas kamu selesai dengan bersih. Saya tidak ingin ada jejak yang mengarah kepada saya nantinya." ucap Wiwit menatap tajam.

" Saya profesional dalam urusan seperti ini. Tunggu saja kabar baik dari saya." ucap Pria menyeringai.

" Bagus. Saya harap kamu bisa bekerja lebih cepat. Saya tidak ingin melihat perempuan itu berkeliaran lebih lama lagi." ucap Wiwit tersenyum sinis.

Pria itu melipat foto Pitaloka, memasukkannya ke dalam sakunya. Ia hanya mendengarkan tanpa banyak bicara. Baginya, perintah adalah perintah, dan imbalan adalah tujuan akhir dari setiap pekerjaannya. Wiwit melangkah lebih dekat, suaranya semakin pelan namun penuh tekanan.

" Saya tidak peduli bagaimana cara kamu melakukannya. Racun, jebakan, atau apapun yang kamu anggap efektif. Yang terpenting, dia tidak boleh kembali ke kehidupan Gumara ataupun Key. Paham?" ucap Wiwit penuh tekanan.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang